Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Musyawarah dan Tawakal

Selasa 22 Jul 2014 14:00 WIB

Red:

Oleh:Prof Nanat Fatah Natsir -- Dalam sejarah Islam dikenal Perang Uhud, yaitu peperangan yang terjadi antara kaum Muslim dan musyrikin. Sebelum berperang, Rasulullah SAW dengan para sahabatnya dan pasukan perangnya menggelar musyawarah untuk mengatur taktik dan strategi perang.

Kemudian, peserta musyawarah pun menyepakati strategi perang untuk menghadapi kaum musyrik. Namun, dalam Perang Uhud pasukan kaum Muslim mengalami kekalahan. Hal itu disebabkan pasukan perang yang ditugaskan Rasulullah SAW untuk tetap siaga di posnya justru melakukan tindakan indisipliner karena mengejar keuntungan material, yaitu ghanimah perang. Padahal, dalam Perang Badar pasukan kaum Muslim meraih kemenangan yang gemilang.

Allah SWT berfirman, "Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah." (QS Ali Imron 159). Mukmin yang bertawakal akan menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah SWT dan meyakini bahwa hanya Dia-lah yang mampu memberi atau tidak memberi sesuatu dan mendatangkan manfaat atau marabahaya.

Bangsa Indonesia telah menyelenggarakan Pilpres 9 Juli 2014 dengan sukses. Tidak ada gangguan yang berarti pada 22 Juli 2014 saat hasil pilpres diumumkan KPU dan telah ditetapkan pemenangnya. Karena itu, kita sebaiknya menyikapi hasil pilpres dengan sikap sebagai berikut:

Pertama, kita harus bersyukur kepada Allah SWT bahwa pilpres telah berjalan sukses. Kita sebagai bangsa Indonesia harus bangga sebagai negara demokrasi terbesar nomor tiga di dunia setelah Amerika dan India yang telah menggelar pesta demokrasi dengan sukses dan aman. Sesuai dengan firman Allah SWT, "Kalau kita bersyukur, maka Allah akan menambah, tetapi jika kufur, maka Allah menyiksa dengan siksa yang pedih."

Kedua, pasangan capres-cawapres dan pendukungnya harus legawa. Siapa pun yang menang, harus kita dukung. Sejatinya, yang menang adalah rakyat Indonesia. Mari kita kembali ke asal hidup bangsa kita yang rukun dan damai. Sudah seharusnyalah yang menang tidak arogan dan yang kalah tidak putus asa. Silakan bersaing kembali lima tahun yang akan datang.

Kita harus membangun jiwa kesatria, siap kalah dan siap menang sehingga kita dapat mewariskan tradisi positif yang bisa diteladani oleh generasi setelah kita dalam berdemokrasi secara santun, cerdas, dan dewasa.

Ketiga, kedua pasangan capres-cawapres sudah berusaha seoptimal mungkin agar menang, tapi kenyataan menunjukkan menurut peraturan hanya ada satu pemenang sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia. Karena itu, ambillah hikmah dari yang terjadi.

Allah SWT berfirman, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS al-Baqarah: 216)

Karena itu, kita bangsa Indonesia harus mengambil hikmahnya apa yang terjadi pada kita mungkin lebih baik bagi bangsa kita. Marilah kita bermusyawarah dan bertawakal kepada Allah SWT.

Mudah-mudahan presiden dan wakil presiden RI terpilih dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat dan menegakkan keadilan agar bangsa ini menjadi lebih baik lagi pada masa mendatang.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA