Sunday, 26 Zulhijjah 1441 / 16 August 2020

Sunday, 26 Zulhijjah 1441 / 16 August 2020

Mengenal Orang Canduang

Ahad 20 Jul 2014 15:00 WIB

Red: operator

Orang-orang Canduang terkenal terampil. Namun, belakangan banyak keterampilan khas Canduang mulai menghilang.

Kemana pun kaki melangkah, keindahan Gunung Marapi di depan mata. Pemandangan itulah yang terlihat bila ki ta menjelajah kampungkam pung di Nagari Canduang Koto Laweh atau Koto Marapak di Nagari Lambah.
Nagari Canduang tak hanya terkenal karena lumbungnya para ulama. Canduang terkenal akan penduduknya yang rajin.
Teman saya, Arina, bercerita, untuk menggarap kebunnya dari tanah bersemak seluas 500 meter persegi, ia menggunakan 11 orang.

Dalam sehari, pekerja dari Canduang menye lesaikan kebun bersih siap tanam, lengkap dengan gulutannya. `'Mereka bekerja dari pukul 8-4 sore, nggak ngobrol, dengan satu jam istirahat,'' katanya. Pulang kerja pun mereka masih mencari kayu dan rumput untuk ternak di rumah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Orang Canduang identik orang yang terampil. Betapa tidak, nama `canduang' sendiri berarti sebuah alat sejenis parang. Alat ini dipakai masyarakat setempat untuk kegiatan sehari-hari mereka, untuk memotong kayu, rumput, dan sebagainya. Canduang juga digunakan untuk berkelahi. Akhirnya, canduang menjadi istilah yang digunakan masya rakat luar menyebut orang-orang kawasan ini yang selalu menggunakan alat itu.

Kawasan perajin Orang Canduang juga terkenal pandai mengukir dan bertukang. Namun, Mak Katik, ahli konstruksi rumah gadang tradisional yang tersisa yang kami temui di ru mahnya, melihat keahlian ini sudah menyusut.
`'Banyak anak-anak muda sekarang lebih suka bekerja di kantor,'' katanya.

Biasanya, keterampilan itu menjadi milik keluarga. Anak-anak belajar dengan melihat anggota keluarganya bekerja. Begitu beranjak besar, mereka dilibatkan dalam pekerjaan itu.

Mak Katik yang menularkan keahlian membangun rumah gadang pada keturunannya juga menghadapi hal yang sama pada anak-anaknya sendiri. Mereka membuat rumah gadang hanya sebagai sambilan.

Kegundahan yang sama juga dirasakan oleh Bulkanedi Sati Batuah, ahli ukiran Minang yang tersisa. Ia menyimpan puluhan dasar ukiran Minang yang didapatkannya turun-temurun. Melestarikan dan menurunkan keterampilan itu pada anak-anak muda menjadi angan-angannya.

Pesanan yang makin berkurang, begitu juga tenaga terampil yang semakin sedikit.Keterampilan khas Canduang pun terancam punah.Salah satu contoh pahitnya adalah hilangnya songket canduang. Tak banyak orang tahu bahwa Canduang memiliki kerajinan tenun songket yang khas.Upaya menghidupkan Cerita keberadaan songket canduang belakangan sedang ditelusuri kembali. Adalah Iswandi, putra seorang guru kitab kuning Canduang yang penasaran mencari tahu.

Dengan mencari kain lama, menelusuri cerita-cerita warga, ia berhasil menemukan songket dari daerahnya.Kami bertandang ke sanggar pembuatan songket yang dikembangkan Iswandi bersama istrinya, Nanda. Lelaki dengan latar belakang pendidikan seni rupa di Universitas Negeri Padang (UNP) ini lalu berupaya menghadirkan kembali songket motif lama itu. Tak cuma itu, ia juga mempelajari motifmotif ukiran Minang dan mentransfernya da lam bentuk motif tenun. Yang menarik, tenun garapannya saat disertakan dalam pameran di Thailand, mendapat penghargaan dari UNESCO.
Iswandi dengan penuh semangat bercerita tentang harapannya mengembangkan tenun-tenun tradisional khas masing-masing daerah. Banyak daerah yang sudah kehilangan jejaknya. Ia ingin semua itu kembali.


Masjid Bingkudu

Sejenak saya kecewa. Betapa tidak, masjid tertua di Sumatra Barat tak se perti yang saya bayangkan. Di lokasinya yang in dah, di lekukan tanah yang dalam di bawah ja lan menuju kaki Gunung Marapi, wa jahnya mu lai berubah. Atap ijuknya yang ber tingkat tiga sebagian hilang, telah ber ganti genting berwar na kelabu. Proses renovasi sedang berlangsung.

`'Atapnya bocor-bocor karena ijuk yang sudah terlalu lama semakin berat. Lagi pula berbahaya karena anak-anak banyak main petasan,'' kata Arman Intan Sejatino pengurus masjid seolah me nangkap kekecewaan saya.

Masjid Bingkudu di Jorong Bingkudu, Nagari Canduang Koto Laweh banyak jadi sebutan di berbagai tulisan. Usianya cukup tua.

Dibangun pada 1823 oleh tokoh dari tujuh nagari, yakni Canduang, Koto Lawas Pasanehan, Bukit Batuah, Lasi Mudo, dan Lasi Tuo.

Masjid yang diinisiasi Lareh Canduang ini dibagun pada era Perang Paderi yang tengah berkecamuk. Diceritakan pula, masjid ini sebagai tempat berkumpul para ulama dan pejuang untuk mengatur strategi menghadapi Belanda.

Hasil karya warga Canduang `'Masjid ini dibuat tanpa paku, dilekatkan pakai pasak,'' kata pengurus masjid yang ka mi temui. Ismet Katik Batuah, ahli konstruksi rumah ga dang dari Canduang menunjukkan bagian masjid yang unik. Pilar bersegi 12 yang jum lahnya 53 buah itu menopang masjid tua ini.

Mak Katik menunjuk pada salah satu pilar masjid yang disebutnya sudah tak asli lagi. `'Sudah dua kali kena petir. Yang terakhir terbelah,'' katanya.

Ia lalu menunjukkan keindahan ukiranukiran motif khas Canduang yang menghiasi masjid itu. Pada bagian atas pilar menempel ke langit-langit masjid, ia menyebut motif sala ka sejenis daun paku yang kini dikenal se bagai paku kadaka. Lalu, lekuk-lekuk daun ber sulur yang mengelilingi bagian lis ping giran interior masjid berwarna biru muda ini.

`'Semua ini dibuat orang Canduang,'' katanya.
Masjid kayu berukuran 21 x 21 meter ini dibuat masyarakat secara bergotong royong.
Tingginya 1,5 m dari permukaan tanah. Mas jid yang dibangun di ketinggian tanah 1.050 mdpl ini dilengkapi menara setinggi 30 meter.

Interior masjid ini berhiaskan sejumlah lampu minyak yang sudah berumur tua. Pada bagian depan ruangan, sebuah mimbar berwarna cokelat dan keemasan buatan 1906.

Halaman masjid dilengkapi kolam ikan dan kolam air untuk bersuci. Di halaman Masjid Bingkudu terdapat makam Syekh Ahmad Thaher, ulama pendiri madrasah tertua di kawasan itu: Madarasah Ulumi Syariah yang meninggal pada 1960.


Pawai Khataman Alquran

Bocah-bocah itu sudah berkumpul di halaman masjid. Mereka berpa kaian putih-putih, para gadis cilik mengenakan kerudung plus mahkota di kepala mereka, ada juga yang dihiasi rangkaian bunga. Para bujang be lia mengenakan celana panjang dan gamis putih, berpeci dan ada pula yang berkafiyeh putih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari itu mereka melakukan prosesi khataman. Tak hanya di Koto Marapak dan Canduang. Di berbagai daerah di Sumatra Barat biasanya diadakan acara khataman serupa.

Bocah-bocah itu kemudian diarak keliling kampung. Rombongan mereka diawali drum band, di kampung lain ada yang didahului dengan pasukan rampak beduk. Ada juga yang ditambah dengan barisan bocah berpakaian adat.

Di belakang mereka berbaris para `raja' dan di belakangnya para `ratu sehari'. Masing-masing didampingi seseorang yang memayungi. Sampai kembali di masjid, bocah-bocah yang kelelahan itu disuguhi makan bajamba, makan bersama dengan duduk di atas ti kar. Acara selanjutnya adalah ujian for malitas mengaji.

Untuk menyertakan prosesi khataman ini, orang tua menyiapkan dana se kitar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta.
Jum lah yang terkadang terasa cukup berat demi menyenangkan si buah hati.

Me nonton pawai khataman yang berlang sung pada hari yang sama di beberapa kampung menjadi hiburan yang menarik di kawasan ini.


Batu Menhir dan Makam Lareh Canduang

Di antara kerimbunan rumpun ilalang, batu-batu pipih lebar itu tampak menyeruak. Papan bertu liskan cagar budaya. Hingga kini belum ada penelitian tentang detail sejarah ma kam dengan nisan batu-batu menhir itu. Di dekatnya terletak pemakaman Ke luarga Tuanku Lareh Canduang dari su ku Sikumbang. Ada tiga makam di da lam nya, yakni Oenus Rj Lenggang yang menjabat pada 1842-1848, Thaib ge lar Khatib Sampono yang menjabat pa da 1848-1857, dan Abdul Karim gelar Da tuak Panduko Sianso yang menjabat mulai 1857.

Reportase oleh : Nina Chairani
Fotografer : Edwin Dwi Putranto

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA