Wednesday, 11 Rabiul Awwal 1442 / 28 October 2020

Wednesday, 11 Rabiul Awwal 1442 / 28 October 2020

Kembali pada Alquran (1)

Selasa 15 Jul 2014 18:53 WIB

Rep: Sonia Fitria/ Red: Chairul Akhmad

Anak-anak mengikuti khataman Alquran di sebuah masjid di Jakarta.

Anak-anak mengikuti khataman Alquran di sebuah masjid di Jakarta.

Foto: Republika/Tahta Aidilla

REPUBLIKA.CO.ID, Sejak awal Alquran berpengaruh besar dalam revolusi kemanusiaan.

Sebuah perumpaan dilontarkan Mukhlis Hanafi. Ia menyinggung soal kesadaran seorang Muslim terhadap kitab sucinya. Menurut pakar Alquran ini, saat seseorang menghadapi hujan, ia akan menggunakan payung atau mencari tempat untuk berteduh.

Ini berarti, saat seorang Muslim sadar tentang Alquran sebagai pedoman hidup yang melindunginya dari celaka, tentu ia akan refleks mengikuti pedoman yang ada di dalamnya. Ingatan ini penting menjelang peringatan Nuzulul Quran pada 17 Ramadhan.

Karena itu, Mukhlis menegaskan, Nuzulul Quran bukan sekadar peristiwa fenomenal. Bagus jika umat Islam merayakan momen itu. “Namun, yang tak boleh diabaikan adalah interaksi dengan Alquran,” katanya, Ahad (13/7) lalu.

Interaksi ini bukan hanya dalam bentuk membaca dan menghafal tetapi juga mengamalkannya. Selanjutnya, mendakwahkan nilai-nilai Alquran kepada orang lain. Menurut Mukhlis, ini merupakan trilogi interaksi Alquran yang tak bisa dipisahkan satu sama lain.

Ia mengatakan, sejak awal diturunkan, Alquran berpengaruh besar dalam revolusi kemanusiaan. Kitab suci ini mampu mengubah masyarakat jahiliyah menjadi beradab. Sebab, ajarannya dirujuk dalam tata kelola masyarakat dan pemerintahan.

Rektor Institut Ilmu Alquran (IIQ) Ahsin Sakho Muhammad mengatakan, untuk masyarakat saat ini seharusnya mudah menuju ke arah itu. Sebab, tak seperti masyarakat jahiliyah dulu, di Indonesia sudah ada masyarakat yang menganut ajaran Islam bahkan dalam jumlah besar.

Dalam konteks global, banyak bertebaran para dai yang bisa menyebarkan isi Alquran. Percetakan Alquran pun tersebar di mana-mana. Sayangnya, kedekatan umat Islam terhadap Alquran sampai saat ini baru menjangkau kulit luarnya saja.

Mereka baru berada dalam tahap membaca, mendengarkan, dan menghafalkannya. Sedikit sekali yang menjalankan ajaran Alquran dalam kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan, banyak orang bergelar haji tetapi mereka tetap berbuat maksiat.

Ahsin mengatakan, ini harus diubah. Langkah awal, setiap individu dan keluarga mesti mulai menerapkan Alquran. Setiap keluarga sebaiknya memiliki agenda kajian Alquran secara teratur. Selain membaca dan menghafal, mereka pun dituntut menautkan Alquran dengan realitas.





BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA