Tuesday, 10 Rabiul Awwal 1442 / 27 October 2020

Tuesday, 10 Rabiul Awwal 1442 / 27 October 2020

Jeruji tak Halangi Minat Baca

Senin 30 Jun 2014 16:12 WIB

Red: Julkifli Marbun

Rutan, ilustrasi

Rutan, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Minat membaca milik semua kalangan. Termasuk mereka yang tengah menjalani ujian hidup dengan status sebagai narapidana (napi).

Meski berada di balik jeruji besi dan dinginnya ruang tahanan, tak menyurutkan  minat mereka untuk membaca.

Setiap hari, Perpustakaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas Satu Kebonwaru, Kota Bandung, selalu dikunjungi warga binaan (napi dan terdakwa).

Perpustaan ini menempati sebuah ruangan  4 x 4 meter persegi dan terletak di bagian depan komplek rutan. Perpustakaan ini, kata Kepala Seksi Bantuan Hukum dan Penyuluhan, Noverli Hendra, berdiri sejak tahun 1992. Saat ini, kata dia, perpustakaan tersebut mengoleksi sebanyak 1.738 buku. Sebagian besar buku tersebut yaitu novel sebanyak 688 eksemplar, buku cerita 627, dan buku pelajaran sebanyak 423.

"Pengadaan buku dilakukan oleh internal dan sumbangan beberapa pihak," kata dia kepada Republika.

Menurut Hendra, perpustakaan ini diperuntukan bagi napi dan karyawan rutan. Setiap hari, kata dia, ada saja beberapa napi yang mengunjungi perpustakaan tersebut untuk membaca atau memimjam buku.

Karena waktu membaca di ruangan perpustakaan terbatas, sebagian besar napi memilih memimjam buku dan dibaca di dalam sel tahanan.

"Waktu pinjamnya dibatasi. Untuk satu buku selama seminggu," kata dia.

Sedangkan menurut staf Seksi Bantuan Hukum dan Penyuluhan, Enih Yunali, buku-buku yang paling banyak diminati oleh napi tentang agama Islam dan novel.

Ia mengatakan, para napi beralasan membaca buku agama islam akan lebih banyak manfaatnya disbanding buku bacaan lainnya.

"Rata-rata mereka memimjam buku agama Islam. Dalam menghadapi ujian hidup ini mereka butuh ketenagan jiwa, karena itu pilihan membaca buku agama sangat tepat," imbuh dia yang bertugas mengelola perpustakaan tersebut.

Perpustakaan ini, kata Enih buka setiap hari kerja mulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB. Buku-buku yang ada di perpustaan tersebut, selain pengadaan sendiri juga ada bantuan dari sejumlah perpustakaan milik pemerintah daerah. Soal jumlah bantuan buku dari pihak luar, kata dia, tidak pasti.

"Kadang tahun ini ada yang menyumbang kadang tidak ada sama sekali. Namun pengadaan dari internal kita setiap tahun selalu ada," ujar dia.

Keberadaan perpustakaan tersebut dirasakan manfaatnya oleh Nandang Nurdin. Napi yang tengah menjalami hukuman karena kasus pidana umum ini hamper setiap hari mengunjungi perpustakaan tersebut. Setiap kali datang ke perpustakaan, ia selalu meminjam minimal dua buah buku. Menurut dia, membaca buku di dalam sel tahanan akan lebih bermanfaat disbanding melamun.

"Ada nilai manfaatnya. Kita menambah ilmu dengan membaca. Daripada melamun di dalam sel," ujar dia.

Nurdin mengaku telah membaca lebih dari 50 judul buku di perpustakaan tersebut. Buku-buku yang paling diminati, kata dia, yaitu tentang ajaran agama Islam. Ia beralasan mendapat banyak ilmu agama dengan membaca di perpustakaan tersebut. Namun ia mengaku koleksi buku agama diperpustakaan tersebut masih sangat terbatas.

"Kalau koleksi buku agamanya ditambah saya yakin akan banyak napi yang mengunjungi perpustakaan tersebut. Kalau ada kalangan swasta yang mau menyumbang buku-buku agama itu sangat bermanfaat," kata dia.

Perpustakaan tersebut juga memiliki fungsi lain. Selain sebagai tempat menyinpang dan ruang baca, perpustakaan ini juga dijadikan kelas untuk kegiatan belajar bahasa Inggris. Tentang kegiatan belajar bahasa Inggris ini sudah berjalan hamper empat bulan lalu.

Awalnya, kata Enih, ada seorang napi kasus penipuan dan penggelapan yang menjadi penghuni rutan ini. Setelah divonis satu tahun penjara, napi yang bergelar professor ini mengabdikan diri menjadi pengajar bagaha Inggris bagi napi lainnya.
Kegiatan les bahasa Inggris gratis ini, kata Enih, dilakukan dua kali dalam seminggu, yaitu hari Senin dan kamis.

Peserta les bahasa sing ini berjumlah puluhan napi. Mereka dengan sukarela menjadi anggota les ini karena memiliki nilai manfaat.

"Kita hanya memberikan pengumuman saja bahwa ada les bahasa Inggris gratis. Dan ternyata peminatnya cukup banyak. Karena banyak dibentuk menjadi empat kelompok," ujar dia.

sumber : Djoko Suceno
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA