Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

 

Sejarah dan Aspek Puasa (2)

Sabtu 28 Jun 2014 20:32 WIB

Red: Chairul Akhmad

Petugas masjid mengecek peralatan pengeras suara yang ditempatkan di puncak menara Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Rabu (25/6) sore. Sirine yang sudah berusia puluhan tahun itu terkoneksi dengan pengeras suara hanya dibunyikan sekali dalam setahun pad

Petugas masjid mengecek peralatan pengeras suara yang ditempatkan di puncak menara Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Rabu (25/6) sore. Sirine yang sudah berusia puluhan tahun itu terkoneksi dengan pengeras suara hanya dibunyikan sekali dalam setahun pad

Foto: Antara/Ampelsa

Bentuk

Ada beberapa bentuk puasa yang dilakukan oleh umat-umat terdahulu. Yaitu:

1. Puasanya orang-orang sufi. Mereka puasa setiap hari.

2. Puasa bicara, yang dipraktikkan oleh kaum Yahudi. Ini dikisahkan Allah dalam Alqur'an, surat Maryam ayat 26.

3. Puasa dari seluruh atau sebagian perbuatan (bertapa), seperti puasa yang dilakukan oleh pemeluk agama Budha dan sebagian Yahudi.

4. Kewajiban puasa dalam Islam, yang ada aturan dan waktunya sehingga tidak terlalu memberatkan umatnya. Namun juga tidak terlalu longgar sehingga mengabaikan aspek kejiwaan.

Hikmah

Kewajiban puasa dalam Islam yaitu puasa Ramadhan memiliki hikmah yang dalam. Yaitu merealisasikan ketakwaan kepada Allan SWT. Ini tercantum dalam surah al-Baqarah ayat 183.

Sejarah Puasa Ramadhan

Kaum Muslimin akan  segera kedatangan tamu agung, yakni bulan Ramadhan. Inilah bulan suci di mana pahala amalan berlipat ganda. Dalam sejarahnya, puasa Ramadhan pun mengalami perjalanan hingga seperti disyariatkan sekarang.

Ramadhan baru disyariatkan pada tahun kedua hijriah, di mana ajaran pokok Islam,yakni ketauhidan, telah mapan dan kokoh di hati kaum Muslimin. Dalam perjalanannya, syariat puasa mengalami beberapa fase menuju kesempurnaannya.

Ayat puasa yang pertama kali turun, yakni surah al-Baqarah ayah 183, “Hai sekalian orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu puasa, sabagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang yang terdahulu dari kamu ….”

Kewajiban puasa Ramadhan ini awal perintahnya hanya bersifat takhyiir atau pilihan. Muslimin diberi pilihan untuk berpuasa atau memberi makan orang miskin.

Namun, puasa lebih utama. “Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kalian mengetahui.” (al-Baqarah ayat 183-184).

Sumber : Dok Rep/AH
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES