Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

 

Memaknai Nilai Ibadah

Rabu 25 Jun 2014 09:11 WIB

Red: Chairul Akhmad

Sejumlah anak bermain sepeda di jalan lingkar utara (jalingkut) Tegal, Jawa Tengah sambil menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit).

Sejumlah anak bermain sepeda di jalan lingkar utara (jalingkut) Tegal, Jawa Tengah sambil menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit).

Foto: Antara/Oky Lukmansyah

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Ramadhan telah tiba. Para profesional dari berbagai bidang seolah berlomba memberi makna pada bulan suci ini.

Kalangan medis berusaha menjelaskan hikmah puasa dan ibadah lainnya dari sudut pandang kesehatan. Ekonom berusaha menjelaskan hikmah zakat, infak, sedekah, dan wakaf dalam konteks stabilitas sosial.

Sementara, para birokrat berusaha menjelaskan hikmah puasa sebagai sarana pengendalian diri yang dihubungkan dengan pengawasan melekat. Para mubaligh berupaya menyuguhkan materi dakwah baru untuk mendapatkan simpati audiensnya, di antaranya melakukan rasionalisasi dan sainstifikasi pemaknaan ayat dan hadis.

Mereka seolah-olah berusaha memikat masyarakat melakukan ibadah, khususnya ibadah mahdah melalui pemahaman yang bersifat antroposentris, sebuah paham yang serba untuk manusia. Antroposentrisme adalah paham yang beranggapan, manusialah yang paling tepat memanusiakan dirinya sendiri. Manusialah yang paling memahami dirinya sendiri.

Paham ini berusaha mengeliminasi intervensi dan keterlibatan unsur asing dari diri manusia dalam memanusiakan dirinya. Unsur asing, termasuk Tuhan dan makhluk spiritual lainnya, dianggap tidak relevan memasang nilai dan norma dalam kehidupan manusia.

Ibadah adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ibadah mahdhah adalah ibadah yang diatur langsung ketentuannya oleh Allah SWT atau melalui rasul-Nya. Sebab, hikmah, illat, dan rahasia yang terkandung di dalamnya hanya Dia yang tahu atau sejauh yang Dia informasikan kepada kita.

Puasa, shalat, dan haji, misalnya, kita tidak tahu secara pasti untuk apa itu disyariatkan. Kita hanya meraba-raba apa hikmah di balik perintah itu. Kita melakukan ibadah lantaran terdorong kebutuhan pragmatisme kita sebagai manusia.

Misalnya, kita berpuasa karena ada unsur diet yang menyehatkan badan, shalat karena ada unsur olahraga jasmaninya, berzakat untuk mengamankan harta kita dari serbuan fakir miskin, berhaji untuk rekreasi spiritual, dan membaca Alquran untuk mengeksplorasi unsur ilmu pengetahuan.

Ibadah dengan motivasi seperti ini adalah mendesakralisasi makna ibadah itu sendiri. Padahal, Allah mensyariatkan kita puasa agar menjadi muttaqin dan perintah shalat untuk mengingat-Nya (aqim al-shalata li dzikri).

Ibadah (mahdhah) adalah sarana untuk menghubungkan diri kita dengan Tuhan dan untuk membuktikan diri kita sebagai hamba serta sekaligus untuk menegaskan keberadaan Tuhan.

Manakala ibadah dilakukan tanpa totalitas penghambaan diri kepada Tuhan, apalagi jika ibadah itu dilakukan sebagai manifestasi kepentingan pribadi kita sebagai manusia, yakni untuk memperoleh manfaat biologis, dengan kata lain, ibadah yang kita lakukan bukan murni penghambaan diri yang dilakukan secara ikhlas dan khusyuk kepada-Nya.

Maka, sesungguhnya itu adalah wujud antroposentrisme ibadah. Ibadah bukan hanya tidak bisa melangitkan manusia, melain kan juga tidak punya resonansi sosial.

Kita boleh saja mengkaji hikmah ibadah mahdhah untuk menambah keyakinan atas kebenaran Islam, tetapi, jika overexplanation, akan mereduksi nilai ibadah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES