Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

 

Puasa Tazkiyatun Nafs dan Jasad (2)

Selasa 24 Jun 2014 16:21 WIB

Red: Chairul Akhmad

Puasa hendaknya dijadikan pelecut semangat dalam kerja maupun ibadah.

Puasa hendaknya dijadikan pelecut semangat dalam kerja maupun ibadah.

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang

Oleh: Dr Syamsuddin Arif*

Orang yang berpuasa sesungguhnya menyucikan dirinya. Puasa adalah instrumen pembersih kotoran-kotoran jiwa seperti halnya shalat.

Orang yang berpuasa tidak hanya menolak yang haram dan men jauhi yang belum tentu halal dan belum tentu haram.

Jangankan yang syubhat dan yang haram sedangkan yang jelas halal pun tak dijamahnya. Puasa berfungsi mematahkan dua syahwat sekaligus, yakni syahwat perut dan syahwat kemaluan.

Demikian kata Imam ar-Razi dalam kitab tafsirnya (Mafatih al-Ghaib, cetakan Darul Fikr Lebanon 1426/2005, juz 4, jilid 2, hlm 68). Syah Waliyyullah ad-Dihlawi menambahkan, puasa itu ibarat tiryaq penawar bagi racun-racun setan, semacam detoksifikasi spiritual.

Dengan puasa, Anda memukul naluri kebinatangan (al-bahimiyyah) yang mungkin selama ini menguasai diri Anda. Puasa sejati melumpuhkan setan dan membuka gerbang malakut (Hujjatullah al-Balighah, cetakan Kairo 1355 H, juz 1, hlm 48-50).

Itulah sebabnya mengapa dalam suatu riwayat disebutkan bahwa mereka yang berhasil menamatkan puasa sebulan Ramadhan disertai iman dan pengharapan bakal dihapus dosa-dosanya sehingga kembali suci fitri bagaikan bayi baru dilahirkan dari rahim ibunya.

Ketiga, fungsi iluminatif. Para awliya’ dan orang-orang saleh diketahui amat suka berpuasa karena seperti dituturkan oleh Syekh Abdul Wahhab as-Sya‘rani dalam kitabnya, mereka justru memperoleh pencerahan batin (ghayat an-nuraniyyah) dan peneguhan rohani serta berbagai kebajikan yang berlimpah tatkala mereka berpuasa (Tanbih al-Mughtarrin, cetakan Damaskus hlm 55).

Hal karena puasa menaikkan status mereka ke derajat malaikat yang penuh taat dan hampa maksiat. Hasilnya semakin dekat mereka kepada Allah, sumber hakiki segala ilmu, dan hikmah manusia.

Puasa menjernihkan ruang komunikasi spiritual antara alam nasut dengan alam malakut. Pada saat berpuasa, sinyal-sinyal makrifat akan lebih jelas, mudah, dan banyak dapat ditangkap.

*Dosen Pascasarjana ISID Gontor Ponorogo

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES