Kamis, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Kamis, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

 

Puasa Tazkiyatun Nafs dan Jasad (1)

Selasa 24 Jun 2014 14:47 WIB

Red: Chairul Akhmad

Puasa bukan berarti menurunkan aktivitas/kerja.

Puasa bukan berarti menurunkan aktivitas/kerja.

Foto: Republika/Wihdan

Oleh: Dr Syamsuddin Arif*

Puasa adalah ritual klasik yang terdapat pada semua agama wahyu.

Inilah yang disitir dalam firman Allah, “Kama kutiba ‘alal ladzina min qablikum,” (QS al-Baqarah [2]: 183), sebagaimana diinstruksikan kepada umat-umat para nabi zaman dahulu— yang notabene semuanya beragama Islam jua.

Bagaimana persisnya cara mereka berpuasa hanya dapat diduga-duga, mungkin begini dan mungkin begitu, namun sukar untuk dipastikan seperti apa praktiknya.

Yang jelas, syariat Nabi Muhammad SAW sebagai telah menganulir sekaligus mengintrodusasi bentuk final tata tertib puasa bagi kaum beriman (alladzina amanu) seperti Anda.

Artinya, cara berpuasa yang tidak sejalan atau berbeda dengan regulasi yang ditetapkan dalam syariat Islam (yakni preskripsi Alquran dan tradisi Rasulullah) dianggap nihil.

Ditilik dari sudut semantik, lafaz ‘shiyam’ yang dipakai Alquran untuk ‘puasa’ asalnya mengandung arti bertahan atau menahan diri, dari kata kerja refleksif shama-yashumu.

Namun, dalam konteks syariat Islam, puasa (shiyam) yang dimaksud ialah menahan diri dari makan-minum dan kegiatan seksual sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan niat ibadah kepada Allah tentunya.

Khusus pada bulan suci Ramadhan, puasa merupakan kemestian perorangan (fardhu ‘ayn) setiap individu yang berakal dan tumbuh dewasa dengan beberapa pengecualian yang diuraikan detailnya dalam buku-buku fikih.

Di luar bulan suci Ramadhan, kaum Muslim juga dibolehkan dan dianjurkan berpuasa secara sukarela (tathawwu‘) berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW di samping puasa denda dan kompensasi (qadha) sesuai dengan aturan yang berlaku.

Multifungsi puasa

Seperti halnya yang lain, puasa adalah ibadah multifungsi dan multidimensi. Yang pertama boleh kita namakan fungsi konfirmatif. Jangan mengaku orang Islam dan beriman kalau tidak puasa pada bulan suci Ramadhan tanpa alasan yang dibenarkan.

Berpuasa merupakan bukti pengukuh keislaman dan keimanan Anda. Kedua, fungsi purifikatif.

*Dosen Pascasarjana ISID Gontor Ponorogo

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Imam Nahrawi Mundur dari Menpora

Kamis , 19 Sep 2019, 18:08 WIB