Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Agar Yatim Lebih Terdidik dan Berdaya

Selasa 24 Jun 2014 13:52 WIB

Red:

Mendidik dan memberdayakan anak-anak yatim yang kurang mampu perlu dibarengi dengan metode pendidikan Islam yang ramah. Sebab, masalah utama anak yatim bukan sekadar pemenuhan kebutuhan ekonomi, melainkan agar masyarakat mau bersikap ramah, peduli, dan memberi limpahan kasih sayang kepada mereka. 

"Mendidik anak yatim harus dibarengi dengan rasa kasih sayang seperti kita menyayangi anak kandung sendiri," kata Profesor KH Quraish Shihab saat bertausiyah pada peluncuran Sekolah dan Rumah Yatim Mizan di Jakarta, Ahad (22/6).

Kiai Quraish mengatakan, orang-orang yang tulus menyayangi yatim berarti telah mencontoh Rasulullah SAW yang juga menyayangi anak yatim. Dari sisi bahasa, ia melanjutkan, definisi yatim adalah ketersendirian. Sedangkan, menurut pengertian umum, yatim merupakan anak yang belum menginjak usia dewasa yang ditinggal wafat ayahnya.

Tokoh bapak, ujar Kiai Quraish, merupakan simbol tulang punggung sebuah keluarga dan bertanggung jawab terhadap pengurusan anak-anaknya. Namun dalam pemberian pendidikan dan pemberdayaan, sebaiknya para pemberi bantuan tidak terpaku pada definisi umum. 

"Sekarang ini bukan dari faktor dia masih punya bapak atau tidak, tapi dilihat dari kebutuhan sang anak untuk mendapatkan perlindungan dan pengasuhan dari ketersendiriannya."

Mengapa demikian? Sebab, menurutnya, tidak sedikit anak yang masih memiliki orang tua lengkap namun tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian karena orang tuanya tidal berdaya atau melakukan pembiaran. "Contohnya, anak-anak jalanan."

Hal itulah yang menjadi dasar pertimbangan Lembaga Amal Khair Yasmin untuk menyeriusi pendidikan dan pemberdayaan yatim di Indonesia. Menurut Ketua Dewan Pembina Yasmin sekaligus Direktur Utama Mizan, Haidar Bagir, tahun ini Yasmin sedang berkonsentrasi pada pengembangan sekolah untuk keluarga dan anak dhuafa.

"Penyediaan pendidikan gratis berkualitas untuk anak dhuafa sudah sangat mendesak," ujarnya.

Ia mengungkapkan, Yasmin  mengucurkan dana Rp 200 juta per bulan untuk membiayai program pendidikan dan pemberdayaan masyarakat dhuafa. Seluruhnya berasal dari keuntungan bisnis ditambah donasi masyarakat.

Program berfokus pada visi utama, yakni menjadi salah satu percontohan dalam pengasuhan, pemberdayaan, dan advokasi anak yatim Indonesia. "Melalui Rumah Yatim Mizan akan terus dikembangkan riset-riset terkait pemberdayaan anak yatim yang paling tepat dan strategis, dengan pembiayaan yang terjangkau," katanya.

Prioritas program Sekolah dan Rumah Yatim Mizan, Haidar melanjutkan, yakni menyelenggarakan SMP Teknologi Informasi dan Komputer Utama (TIK Utama)  dengan desain kurikulum mandiri berbasis IT. Sekolah juga akan berorientasi pada empat ranah utama, yaitu ketangguhan dan kemandirian siswa berlandaskan akhlak mulia, kemampuan komputer dan komunikasi, serta kecintaan pada ilmu pengetahuan dan seni. "Dengan begitu, yatim akan terdidik dan berdaya," ujarnya.

Sekolah Mizan Yatama akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, seperti asrama dengan pembinaan akhlakul karimah, pengembangan life skill, pendalaman makna-makna ibadah, dan pengembangan jiwa mandiri. Selain itu, pembinaan asrama akan berkonsentrasi pada pemenuhan psikologis anak dengan memberikan kasih sayang yang berlimpah serta kenyamanan yang tidak mereka dapatkan dari orang tua mereka.

Sekolah dan rumah yatim yang rencananya dibuka setelah Ramadhan tersebut sampai saat ini masih menjaring calon peserta didik. Untuk tahun ajaran perdana, sekolah ini akan mencari 20 siswa yatim dhuafa yang lolos observasi dan kriteria. "Kesulitan membuat rumah yatim adalah mencari anak yang mau dan betah dididik."

Kriteria calon siswa, Haidar menambahkan, yakni mereka yang betul-betul membutuhkan dan betah tinggal di asrama. Saat ini, baru tujuh anak yang dipastikan akan menjadi peserta didik di sekolah yatim. Sekolah akan bekerja sama dengan Masjid Imam Bonjol dalam penyediaan ruang belajar siswa, yaitu di Kompleks Marinir Angkatan Laut, Pangkalan Jati, Pondok Labu, Jakarta Selatan. rep:c78 ed: wachidah handasah

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA