Saturday, 20 Zulqaidah 1441 / 11 July 2020

Saturday, 20 Zulqaidah 1441 / 11 July 2020

Jawa Berubah Secara Dahsyat!

Selasa 24 Jun 2014 13:52 WIB

Red:

oleh:Muhammad Subarkahah -- Mohammad Damami lahir di Kediri, 1 Agustus 1949. Kini, menjabat sebagai dosen pada Fakultas Ushuludin UIN Yogyakarta yang memangku mata kuliah mistisme dan gerakan tarekat, sosiologi pesantren, dan akhlak tasawuf.

Pada 2010, dia menyelesaikan disertasinya tentang "Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Periode 1973-1983". Selain itu, Damami juga menjabat sebagai anggota Dewan Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta periode 2014-2018.

''Telah terjadi perubahan besar di dalam masyarakat Jawa terkait dengan pemahamannya terhadap ajaran Islam. Situasi ini memang tak terbayangkan. Orang Jawa kini sangat percaya diri dengan identitas keislamannya,'' kata Damami.

Apakah sekarang Jawa (maksudnya Jawa Tengah atau wilayah 'Mataraman') kini sudah berubah. Kalau dulu tampak abangan, kini malah semakin santri atau Islami?
Memang ghiroh (semangat) untuk menumbuhkan Islam sekarang mulai tampak kembali. Ini makin tampak setelah zaman reformasi. Saat itu, kegiatan keagamaan Islam semakin percaya diri. Uniknya, kemampuan ini bersikap mandiri atau tidak di-/back up sistem politik-kenegaraan. Jadi, ini berbeda dengan era zaman Soeharto.

Alhasil, situasi ini sudah sangat berbeda dengan situasi tahun 1955 atau era Sukarno di mana Islam dianggap sebagai lawan dari paham nasionalisme dan komunisme. Memang Sukarno sempat ingin menggabungkan kekuatan nasionalis, komunis, dan Islam, namun akhirnya tak berhasil, malah kemudian memercikkan benturan sosial dahsyat. Di masa ini, saya lihat pembentukan kepercayaan diri masyarakat Islam masih dalam wujud proses yang awal, yakni berupa kerangka. Jadi, pada Pemilu 1955, situasi ini pernah dicek di mana kekuatan Islam mendapat suara hingga lebih dari 40 persen, namun situasi kepercayaan diri umat Islam masih sebatas percobaan atau kerangka.

Situai ini berlanjut pada masa Suharto. Pada masa awal kekuasaan ini menekan habis umat Islam. Namun, pada ujung kekuasaan dia, akhirnya kekuatan Islam mendapat porsi. Di situ kemudian keluar sebutan soal 'ijo royo-royo' atau proses penyantrian yang luas. Nah, pada masa reformasi, kepercayaan diri umat Islam mampu tampil mandiri ke permukaan.

Jadi, kalau begitu 'Jawa' sudah benar-benar Islami?
Memang secara mayoritas begitu, meski juga tidak total seluruhnya. Kesadaran agama Islam sudah tampak begitu dalam dan beda sekali dengan situasi dekade -50an atau 70-an. Dan, ini timbul oleh beberapa sebab. Pertama, arena lancarnya arus informasi internasional. Sehingga, berita-berita dari luar negeri yang sebelumnya tak pernah dibaca, kini malah memicu situasi besarnya keinginan umat Islam untuk survival di tengah tantangan zaman. Misanya, bila ada umat Islam dari lain negara yang ditekan, maka ini malah memicu kesadaran umat Islam di Jawa itu. Jadi, bukan dalam hal ini umat Islam tak hanya membaca pengaruh perubahan yang berasal dari dalam negeri, andil mudahnya mendapat informasi juga ikut memberikan pengaruh yang besar.

Mudahnya mendapat informasi, semakin punya arti karena tokoh-tokoh umat Islam kini semakin pintar. Pendidikan mereka bukan hanya made in pesantren, tapi sudah merupakan para sarjana, bahkan mereka kebanyakan bersekolah ke luar negeri serta bergelar doktor dan profesor. Bahkan khusus untuk profesor, jumlah mereka sangat banyak dan mereka mendapat peran yang khusus sebagai pemimpin umat.

Kalau begitu, situasi yang terjadi ini sangat mengejutkan?
Saya kira memang begitu. Adanya kebebasan yang sekarang muncul di segala lini ternyata mampu dimanfaatkan dengan baik oleh umat Islam untuk percaya pada kemampuannya sendiri. Penyebab kedua, bila melihat kawasan antropologi masyarakat yang ada di basis bawah, terus tumbuh dan menguat tradisi taklim. Hal ini menguat dengan munculnya tradisi pengajian yang ada di layar televisi.

Adanya dua hal ini terasa punya hubungan erat dan saling menguatkan. Kedua bidang pengajian ini saling memengaruhi. Malahan, pengajian di kalangan umat ini tak hanya bersifat konfensional 'ngaji', kini malah sudah menggeliat menjadi jaringan ekonomi, bisa berupa perbankan mikro, perdagangan, hingga aktivis sosial seperti pendidikan.
Bentuk pengajian Alquran juga mengiringi dan semakin modern.

Ini, misalnya, meluasnya kajian terhadap tafsir. Umat di bawah sudah tidak canggung mendengarkan ceramah DR Quraish Shihab, kalau dalam bidang sosial ada Ustaz Yusuf Mansyur, ada juga yang mendengarkan kajian dari pakar hadis kondang jebolan dari Pesantren Gontor, Lutfi Fatullah. Maka, lembaga-lembaga umat kini semakin tertata dan bersifat sistemik. Kesemarakan majelis taklim yang ada di level atas, menengah, dan kota kini tersambung dengan kegiatan dakwah yang ada di level rakyat biasa dan pedesaan.

Penyebab ketiga dari meluasnya kepercayaan umat Islam di Jawa itu juga karena meluasnya penerjemahan 'kitab-kitab kuning'. Bila dulu hanya mereka yang pernah belajar di pesantren itu yang tahu isi kitab kuning, maka kini masyarakat umum pun sudah bisa membacanya secara mudah. Terjemahan klasik seperti Kitab Al Um, misalnya, kini sudah sangat mudah didapat. Bayangkan kalau Anda tidak mondok di pesantren, Anda tak bisa tahu atau kenal kitab ini. Tapi, kini setelah diterjemahkan siapa saja bisa membacanya. Orang tanpa perlu 'mondok' di pesantren dengan gampang mengutip pendapat Imam Syafi'i seperti yang ada di kitab Al Um itu. 

Akibatnya, banyak orang yang tanpa melalui pesantren kini muncul sebagai 'kiai-kiai' baru. Dengan demikian, pengaruh 'kiai tradisional' agak tersingkir sebab kini muncul para 'kiai baru' meski bukan 'orang pesantren'. Posisi mereka makin signifikan di mata umat karena mereka punya kemampuan orasi yang luar biasa.

Fenomena ini jelas menandakan adanya perubahan yang dashyat dalam masyarakat Jawa. Terlepas ada pihak yang senang atau tidak atas fenomena ini memang itulah kenyataannya. Dan, bagi pihak yang tak senang karena kemudian melihat munculnya aksi 'kekerasan terhadap umat beragama', saya lihat ini sifatnya hanya kasuistis. Ini karena hanya merupakan bagian umat yang jumlahnya kecil sekali.

Kalau begitu, apakah Anda melihat ada perubahan sikap dari masyarakat Jawa di dalam memandang ajaran Islam?
Jelas sekali ada perubahan. Terutama dalam segi kultur, ini bermula dari jasa Nurcholish Madjid yang menuliskan makalah: "Islam Yes Partai Islam No?" Publik saat itu geger. Tapi, ini besar artinya. Salah satu hal, misalnya, mulai saat itu bila seseorang naik haji, maka tidak bisa dikaitkan dengan partai. Dulu kalau tidak dari Masyumi seorang haji, ya dari Partai Nahdlatul Ulama. Jadi, pergi haji menjadi hal aneh pada saat itu.

Tetapi, begitu ada konsep 'Islam Yes Partai Islam No', maka orang-orang dari luar partai nasionalis atau PDIP maupun Golkar menjadi lumrah saja kalau berhaji. Ini salah satu contohnya. Dan setelah reformasi ini, situasinya malah kian melebar, bahkan makin dalam masuk ke sisi kebudayaan. Salah contohnya, ya jilbab itu. Sekarang tidak ada seorang direktur bank, profesor, anggota DPR, bahkan penyiar televisi yang Muslimah merasa minder bila pakai jilbab. Tidak ada yang merasa menjadi kampungan karena memakainya.

Nah, situasi seperti ini tak bisa ditahan atau mundur lagi. Apalagi, di kalangan rakyat bawah muncul banyak sekali BMT syariah. Dulu hal ini tak pernah diperhatikan, sekarang ini malah meluas di Jawa. Bahkan, saya melihat keberhasilan BMT di kalangan rakyat bawah ini lebih baik dari apa yang dilakukan peraih Nobel asal Bangladesh, Muhammad Yunus, yang kondang dengan Grement Bank-nya itu. Di sini malah lebih kokoh.

Apa benar bila ada sebagian pihak yang mengatakan meski Jawa semakin Islam, tapi juga semakin radikal?

Dalam soal radikal ini saya lihat kasuistis. Tapi, karena ini kemudian diledakkan di media massa, maka seolah-olah sebuah masalah yang begitu besar. Ketika zaman Pak Harto kekerasan ini juga timbul, tapi karena media massa tak memberitakannya, maka ya tidak terlihat atau bisa diredam. Nah, ini beda dengan sekarang ketika semuanya bebas atau terbuka. Apalagi, dalam hal ini media massa di dalam mencari beritanya cenderung suka yang kontroversial karena ini bernilai jual. Maka, kesan adanya radikalisme itu tinggi, padahal saya kira yang tidak radikal itu hampir total atau malah 99 persen besarnya.

Situasi ini makin ruwet ketika kasus di dunia internasional yang terkait umat Isam dikait-kaitkan ke sini. Yang terakhir, misalnya, kasus penyerangan rumah penganut Katolik di Sleman. Itu kan kasuistis sifatnya. Namun, kan ini dibesar-besarkan seolah Jawa semuanya seperti itu. Dalam kasus ini, misalnya, saya lihat ada persoalan sosial, yakni kejenuhan lingkungan, yang menjadi latar belakangnya. Tapi, kemudian kan tidak dilihat secara objektif. Inilah yang saya sayangkan. Jadi, jangan dijadikan sebagai sebuah fobia

Nah, kalau secara sosial berubah, apakah ini juga memengaruhi sikap orang Jawa terhadap kecenderungan pilihan politik?

Seperti hukum roti, bila semakin besar, maka sulit untuk tidak berebut. Cuma temanya kini bergeser. Kalau dulu ketika umat Islam merasa masih tertindas, merasa terkepung, maka kesatuan ideologisnya menguat. Tapi, ketika kelonggaran terjadi dan jumlah umat semakin banyak, maka orientasi kepentingan menjadi semakin subur. Maka, afiliasi politik juga berubah. Kini, tidak bisa lagi dikatakan Jawa itu abangan karena partainya PDIP. Atau Jawa itu santri, maka partainya Islam atau PKS.

Dalam soal ini yang saya lihat hal-hal yang idelogis di Jawa kini semakin mentah karena dalam soal politik semuanya sudah longgar sifatnya. Memang dalam sisi pemahaman Islam dan kesadarannya dalam beribadah semakin baik. Namun, ketika berjuang yang sifatnya ideologisnya, masih keadaannya belum bisa menyatu.

Memang harus diakui cara bergama orang Jawa kini semakin praktis. Mereka tak hirau lagi soal khilafiyah. Mereka juga tak malu lagi menyoal soal praktik budaya leluhur, seperti kenduri, jiarah kubur, dan lainnya. Dalam hal ini trikotomi Clifford Geertz sudah berubah. Bila dia dulu mengatakan kaum abangan itu adalah 'petani gurem', santri itu tuan tanah lepasan pondok pesantren, dan priayi pegawai negeri, nah keadaan seperti ini kok saya lihat sekarang sudah berubah. Semua orang kesadaran keislamannya sudah begitu tumbuh. Dengan kata lain, garis batas atas kelompok orang Jawa yang dahulu dibuat Geertz kini sudah tak jelas lagi. Meski begitu, teori ini dalam keilmuan masih bisa dipakai. Tapi, tolong sisi priayi lebih baik dilepas saja karena di agama lain pun sama. Ini karena kan ada orang yang taat beragama (dalam Jawa disebut santri) dan tak taat beragama (abangan). Di Katolik atau Kristen juga ada sebutan Katolik Jawa kan? Jadi, ada juga orang yang 'abangan' di agama tersebut.

Kalau begitu, peran lembaga budaya atau keraton dalam masyarakat Jawa kini seperti apa? Sebab, masyarakat Jawa kan sudah begitu berubah?
Sebelum menjawab, Keraton Jogja dan Solo harus dipahami sebagai Keraton Mataram Islam, bukan Mataram yang lain. Nah, keadaannya kalau boleh dikatakan Islam sekarang sudah sangat memengaruhi masyarakat yang berada di luar keraton. Yang di dalam keraton relatif masih bergenealogi atau bersilsilah dengan keraton yang lama, seperti budaya yang dibawa dari Demak, Pajang, Pleret, Kartasura, Surakarta, kemudian Yogyakarta. Di dalamnya masih ada yang ingin mempertahankan kebudayaan mereka yang ternyata juga 'Islam' itu.

Nah, keadaan ini berbeda dengan masyarakat yang berada di luar keraton. Mereka itu kini sudah sangat rasional dan sangat demokratis serta makin dalam keislamannya. Masyarakat awam Jawa yang ada di luar keraton itu sudah sangat paham dan mampu memasangkan diri dalam kaitannya antara tarikan budaya dan ajaran Islam. Ini makin menarik karena berbeda dengan dahulu, keraton kini bukan sebuah kekuatan politik lagi.

Nah, di sini saya ingin agar keraton tidak berada dalam posisi terasing. Maka, mau tidak mau, pada suatu saat keraton harus terbuka melihat kenyataan yang kini terjadi di luar. Tapi, memang saya juga ingin wajah keraton menjadi berubah sama sekali. Sebab, bila ini sampai terjadi, maka keraton juga kehilangan keunikan atau kekhasannya. Bila ini terjadi, maka posisi keraton juga hilang.

Untuk itu, mereka yang berada di luar keraton harus juga menjaga sampai batas-batas tertentu bahwa keunikan keraton itu tetap menjadi kekayaan budaya umat Islam. Dalam posisi tarik-menarik ini, saya jelas ingin keberadaan keraton harus dipertahankan. Apabila mengingat fakta bahwa seluruh keraton yang kini eksis di Jawa itu sebenarnya adalah keraton Islam.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA