Takjil Indonesia Dipuji Umat Islam Berbagai Negara

Rep: c64/ Red: Agung Sasongko

 Senin 23 Jun 2014 23:55 WIB

Takjil Foto: Antara Takjil

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berkumpul bersama sembari berbuka merupakan kenikmatan tiada tara. Ini yang dirasakan Risahmawati ketika menempuh pendidikan di Jepang.

Saat di Jepang, Risah menetap di kota kecil Saga, wilayah Jepang bagian selatan. Ia mengenyam pendidikan S3 di Universitas SAGA dengan mengambil program Komunitas Kedokteran. “Biasanya untuk menyambut Ramadhan, komunitas muslim Indonesia merencakan beberapa agenda yang akan dilaksanakan saat ramadhan, seperti pengajian rutin dan buka puasa bersama,” ujarnya.

Tak tertinggal pula program hatam Al-Qur’an yang dilakukan oleh komunitas muslimah dari Indonesia. Ia dan beberapa mahasiswi mulim Indonesia rutin memprogramkan hatam Alquran setiap Ramadhan. Hal yang unik dari program hatam tersebut tidak dilakukan secara bertatap langsung, melainkan memanfaatkan saluran komunikasi Skype.

Ia bercerita setiap setengah jam sebelum adzan Shubuh, Ia dan muslimah lainnya sudah online dan secara bergantian  mengaji satu juz,, kegiatan tersebut rutin dilakukan setiap harinya. Sehingga, selama 30 hari berpuasa dapat mengkhatamkan Alquran bersama-sama.

Ketika Ramadhan tiba di Jepang sedang musim Panas, dimana periode puasa lebih lama dibandingkan di Indonesia. Sekitar 03.00 waktu setempat adalah waktu shubuh dan waktu maghrib akan berada disekitar pukul 20.00 waktu setempat. Walaupun, begitu kehikmatan dalam berpuasa tetap dirasakan.

“Ketika Ramadhan tiba hal yang dirindukan dari Indonesia adalah makanan khas pembukan puasa, seperti kolak kacang hijau dan makan manis lainnya khas Indonesia. Jenis-jenis makanan tersebut sulit ditemui di Jepang khususnya di Saga,” lanjutnya.

Hal yang tak terlupakan dari Jepang ketika Ramadhan, kata ia, ketika itikaf di Masjid Fuko’ouka yang setiap pekannya rutin diadakan sepanjang Ramadhan. Suasana  begitu berbeda. Di Masjid Fuko'oka bertemu, berbagai Muslim dari berbagai bangsa dan negara berkumpul menjadi satu dirumah Allah. Beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan bersama-sama.

Kegiatan itikaf yang setiap minggunya selalu dipenuhi oleh saudara muslim lainnya. Tak hanya itu, makanan yang dihidangkan untuk berbukan dan sahurpun bervariasi. “Setiap minggunya ada giliran dari tim dari negara masing-masing yang bertugas menghidangkan makanan. Seringkali tim dari Indonesia mendapatkan giliran di hari-hari minggu pertama,” lanjut wanita yang kini berdiam dengan keluarganya di daerah Cibubur, Bekasi.

Sambung ia, ketika giliran tim Indonesia menyediakan hidangan berbuka dan sahur , tak jarang para muslim dari berbagai negara memuji makanan khas Indonesia, seperti kolak, sate, hingga makanan khas Indonesia yaitu tempe. Banyak dari masyarakat Jepang yang mengenal dan menyebut tempe adalah makanan asli Indonesia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X