Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Minat Perajin Batik Tulis di Jambi Menurun

Kamis 19 Jun 2014 14:22 WIB

Red: Nidia Zuraya

Batik tulis/ilustrasi

Batik tulis/ilustrasi

Foto: Edy Yusuf/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAMBI -- Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Jambi Hj Yusniana Hasan Basri mengharapkan agar pemerintah terus melakukan pembinaan untuk mengembangkan batik Jambi dan meningkatkan kesejahteraab para pengrajin.

"Harus ada upaya optimal untuk mengembangkan batik Jambi mengingat saat ini minat pengrajin batik tulis di Jambi mengalami penurunan, sebab perajin lebih suka membuat batik dengan sistem cap," katanya di Jambi, Kamis (19/6).

Harapan itu disampaikan Yusniana saat pembukaan pelatihan pengembangan desain dan pewarnaan alam yang dilaksanakan oleh Dekranasda Provinsi Jambi bekerja sama dengan Dinas Perindustrian Provinsi Jambi. Pelatihan yang akan berlangsung hingga 22 Juni itu mengundang perwakilan dari Museum Nasional Jakarta Darami, dan perwakilan dari Museum Tekstil Trisni dan Gianto, pelatihan diikuti 25 pengrajin dari kabupaten/kota se-Provinsi Jambi.

Lebih lanjut Yusniana mengharapkan pelatihan ini dapat meningkatkan mutu desain batik, yang saat ini masih kurang variasinya atau monoton, dan pemerintah dapat mencari solusi terbaik untuk meningkatkan minat perajin agar lebih menyukai batik tulis.
"Kita harapkan ke depan batik Jambi dapat memiliki ciri khas dari setiap kabupaten/kota, dan dapat diproduksi dengan harga yang murah dan terjangkau oleh kalangan menengah ke bawah," ujarnya.

Selama ini batik tulis harganya sangat mahal dan relatif hanya mampu dibeli oleh kalangan atas. Ia mengatakan, perhatian pemerintah dalam pengembangan batik di Provinsi Jambi sudah sangat baik, namun di sisi lain hasilnya belum dirasakan optimal, terutama dalam pengembangannya.

Diharapkan melalui berbagai pelatihan dan inovasi serta kreasi yang dilakukan, batik Jambi akan kembali mendapat tempat di hati masyarakat. "Hal ini perlu saya sampaikan mengingat saat ini cukup banyak pakaian batik dari negara lain yang beredar di pasaran, antara lain dari Korea, Cina dan Malaysia," ujarnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA