Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Tanaman Padi Terancam Kekeringan

Kamis 12 Jun 2014 12:41 WIB

Red:

INDRAMAYU -- Kekeringan mulai mengancam areal tanaman padi di sejumlah daerah. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, para petani terpaksa mengeluarkan uang lebih banyak untuk pompanisasi agar tanaman padi mereka tak kekeringan.

“Tapi, lkalau dalam sebulan ini hujan tidak turun, ribuan hektare tanaman padi akan mati,” ujar Wakil Ketua KTNA Kabupaten Indramayu Sutatang kepada Republika, Rabu (11/6).

Sutatang melanjutkan, selain hujan yang tak jua turun, ancaman kekeringan juga terjadi akibat menurunnya debit air di saluran irigasi. Akibatnya, air tidak bisa sampai ke areal persawahan. Adapun daerah-daerah yang terancam kekeringan di antaranya Kecamatan Juntinyuat, Karangampel, Krangkeng, Sliyeg, Jatibarang, dan Indramayu.

Karma, seorang petani di Kecamatan Jatibarang berharap ada bantuan mesin pompa dari pemerintah untuk menghindari kekeringan pada tanaman padi. “Kami minta tolong ke pemerintah supaya memberi bantuan mesin pompa air,” ujar Karma.

Edi, penjaga Waduk Setu Patok Cirebon mengatakan, debit air waduk di Kecamatan Mundu tersebut mulai berkurang menjelang musim kemarau. Menyusutnya debit air, kata Edi, biasanya akan diikuti dengan kekeringan yang melanda sejumlah lahan pertanian. “Penyebabnya, pengeluaran air untuk lahan pertanian tidak sebanding dengan persediaan,” kata Edi.

Sutarman, petani Kecamatan Mundu mengatakan, Setu Patok merupakan andalan sumber air bagi petani. Jika waduk kering, maka ribuan hektare sawah dipastikan gagal panen.

Di Sukabumi, Jawa Barat, mulainya musim kemarau sudah menyebabkan kekeringan pada beberapa hektare sawah di wilayah selatan Sukabumi. “Untuk luas lahan pertanian, khususnya sawah, masih dalam pendataan. Namun, kami memperkirakan kekeringan sudah mencapai puluhan hektare dan menyebabkan banyak petani tidak berani menanam padi,” kata Ketua KTNA Kecamatan Surade, Sahlan.

Di Yogyakarta, Dinas Pertanian DIY mengimbau petani agar mulai menanam palawija atau tanaman lain yang tidak banyak membutuhkan air. Imbauan itu merupakan salah satu upaya mengantisipasi kemungkinan munculnya El-Nino yang berdampak kekeringan.

“Meskipun hujan, terkadang masih terkecoh, sehingga petani masih menanami seluruh lahan dengan padi. Makanya kita sarankan mulai tanam palawija,” kata Kepala Dinas Pertanian DIY Sasongko.

Menurut dia, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan lebih panjang dari tahun sebelumnya, sehingga memungkinkan terjadi kekurangan air. Daerah di DIY yang memiliki ketersediaan air paling sedikit saat kemarau biasanya berada di wilayah Kabupaten Gunung Kidul. Karenanya, Sasongko mengingatkan agar petani Gunung Kidul harus memiliki kewaspadaan lebih guna menghadapi kemungkinan kekeringan.

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY Tony Agus Wijaya mengatakan, Yogyakarta sudah memasuki musim kemarau sejak awal Mei 2014. Pada kemarau tahun ini, DIY juga diperkirakan terkena dampak fenomena El-Nino yang mengakibatkan kekeringan panjang. “Meskipun kadang-kadang masih sesekali turun hujan, namun pada kenyataannya sudah masuk musim kemarau,” kata Tony.

Di Medan, Dinas Pertanian Sumatra Utara sedang melakukan pengawalan ketat pada tanaman strategis, khususnya padi. Sumut mengkhawatirkan kekeringan meski musim kemarau masih belum menimbulkan dampak negatif besar sampai saat ini.

Kepala Dinas Pertanian Sumut M Roem menyatakan, saat ini memang belum ada laporan serius tentang kerusakan tanaman akibat kemarau. Tim sedang berkoordinasi dan mengumpulkan data dari daerah untuk bisa mencari solusi cepat apabila terjadi gangguan tanaman.

Menteri Pertanian Suswono meminta pemerintah daerah melakukan koordinasi terkait kehadiran El Nino. Hal ini agar dampak kerugian akibat El Nino bisa diminimumkan. El Nino membawa musim kering bagi pertanian di Indonesia. Kementerian Pertanian (Kementan) pun sudah melakukan berbagai antisipasi, salah satunya menyediakan cadangan air. “Sumbernya bisa dari air tanah atau air sungai,” katanya, Rabu (10/6).

Berdasarkan pengalaman Kementan, kata Suswono, El Nino memberikan dampak langsung dan tidak langsung. Dampak langsung adalah terjadinya kekeringan yang mengganggu metabolisme tanaman. Akibatnya, produksi beberapa komoditas bisa turun. Tanaman perkebunan termasuk dalam komoditas yang bisa turun produksinya, seperti kopi, teh, lada, cengkih, dan tebu.

Sedangkan dampak tidak langsung dari El Nino adalah meningkatnya kasus kebakaran kebun. Akibatnya, kesehatan masyarakat bisa terganggu karena polusi asap.

rep:llies sri handayani/meiliani fauziah/edy setiyoko/antara   ed: eh ismail

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA