Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Tanwir II PP Aisyiyah Bahas Kekerasan Terhadap Anak

Ahad 08 Jun 2014 07:39 WIB

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Chairul Akhmad

Lambang Aisyiyah.

Lambang Aisyiyah.

Foto: Media.immjateng.or.id

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Kejahatan terhadap anak di Indonesia termasuk kekerasan, pelecehan seksual dan penjualan anak menjadikan perhatian khusus dalam Tanwir II Aisyiyah yang berlangsung di Solo, 6-8 Juni.

Sebenarnya kegiatan untuk mengeliminasi tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak sudah menjadi bagian dari program Aisyiyah selama ini.

“Namun, karena melihat kondisi yang sudah sedemikian memprihatinkan, maka dalam Tanwir Aisyiyah kali ini kekekerasan/kejahatan terhadap anak ini harus menjadi perhatian Aisyiyah di seluruh provinsi dan daerah,” kata Ketua Umum PP Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini di Gedung STIKES Aisyiyah Surakarta, Sabtu (7/6).

“Aisyiyah sudah mendesain gerakan dan aksi bersama untuk mengeliminasi kekerasan terhadap anak,” ia menambahkan.

Sebetulnya, kegiatan untuk memberi bekal kepada orangtua melalui pengajian  dan kepada para wali murid di Taman Kanak-kanak (TK) tentang bagaimana kualitas parenting, bagaimana menghadapi teknologi informasi dengan media literasi sudah disampaikan cukup lama, namun belum menyeluruh. Sehingga hal itu harus menjadi perhatian yang lebih kuat dan intensif.

Untuk itulah, dalam satu tahun ke depan ini Ketua Umum PP Aisyiyah meminta kepada  Pimpinan Wilayah Aisyiyah harus mengkoordinasi daerah  melakukan strategi bersama secara internal di persyarikatan dan hal ini harus masuk dan dikuatkan di lembaga pendidikan dan panti asuhan.

''Karena yang mananya berbagai tindak kekerasan bisa terjadi di berbagai lembaga dan kami punya banyak sekali lembaga pendidikan panti asuhan serta lembaga lain,” kata Noordjannah.

Noordjannah juga berharap Aisyiyah di daerah bisa berkomunikasi dan bersinergi dan bergandengan tangan dengan kelompok di daerah yang menangani kekerasan terhadap anak dan perempuan. Bisa jadi Aisyiyah di daerah tidak punya lembaga hukum dan konselor secara profesional.

Di samping itu, kata dia menambahkan, dalam Tanwir II Aisyiyah posisi pimpinan daerah Aisyiyah untuk  bisa melakukan gerakan yang sifatnya ke bawah dengan isu strategis, termasuk kekerasan.




BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA