Sunday, 21 Zulqaidah 1441 / 12 July 2020

Sunday, 21 Zulqaidah 1441 / 12 July 2020

Kaligrafi Turki Utsmani (2)

Senin 12 May 2014 15:14 WIB

Rep: c64/ Red: Damanhuri Zuhri

Pameran Kaligrafi

Pameran Kaligrafi

Foto: Republika/Prayogi

REPUBLIKA.CO.ID, -- Ia pun menulis sejumlah buku tentang kaligrafi. Melalui sentuhan tangan dinginnya, ia berhasil mengasah talenta sejumlah seniman hingga menjadi kaligrafer andal. Sebut saja misalnya, Hafidz Usman, Yahya Sofi, dan Ali Sofi.

Tak hanya di masa pemerintahan Sultan Muhammad, karya-karya kaligrafi bermutu juga bermunculan pada masa kekuasaan Sultan Bayezid II dan Pangeran Korkut. 

Di masa  Sultan Bayezid II, Syekh Hamdullah masih berjaya dengan melahirkan karya-karya kaligrafi yang sebagian besar bergaya yakut.  Berkat dukungan Sultan Bayezid, ia kemudian mampu menciptakan gaya kaligrafi yang benar-benar baru.

Ia misalnya, menggali gaya baru kaligrafi yang disebut aklamisite. Sejumlah karya emasnya terpajang dan menjadi unsur dekoratif di Istana Topkapi.

''Kehebatan Syekh Hamdullah tampak pada elemen-elemen kaligrafi dan bentuk-bentuk pengulangan yang indah,'' komentar Prof Ugur Derman seperti dilansir laman muslimheritage.

Bertahan lima abad

Berawal dari masa kejayaan Syekh Hamdullah, kaligrafi Turki Utsmani terus bertahan dalam rentang waktu yang panjang, yakni lima abad. Kaligrafi Turki Utsmani mencapai titik keemasannya pada abad ke-19 dan 20.

Meski Syekh Hamdullah dipuja sebagai bapak kaligrafi Turki, namun ranah kaligrafi di negeri itu tak melulu tampil dengan gaya Hamdullah.

Dalam perkembangannya, muncul gaya-gaya lain. Di antaranya, gaya jeli, syikastah, syikastah-amiz, diwani, dan diwani jali. Syikastah (bentuk patah) biasanya digunakan untuk keperluan praktis.

Sementara gaya diwani dikembangkan oleh Ibrahim Munif pada akhir abad ke-15. Gaya ini didominasi oleh garis-garis melengkung dan bersusun.

Belakangan, gaya diwani dikembangkan lagi dan lahirlah gaya diwani baru. Gaya diwani baru itu disebut juga dengan diwani jali atau humayuni (kerajaan). Gaya ini dikembangkan sepenuhnya oleh Hafidz Usman dan murid-muridnya.

Ketika Sultan Bayezid II wafat, kejayaan Syekh Hamdullah pun meredup. Kaligrafer yang sepanjang hayatnya telah menulis 47 salinan Alquran itu pun memutuskan angkat kaki dari Istanbul dan pulang ke kota asalnya di Anatolia Utara, Turki bagian barat.



BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA