Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Ini Cara Mona Ratuliu Sampaikan Pendidikan Seks ke Anak-Anaknya

Kamis 08 May 2014 19:03 WIB

Red: Indira Rezkisari

Mona Ratuliu

Mona Ratuliu

Foto: Aditya Pradana Putra/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Aktris Mona Ratuliu memilih situasi santai dan menyenangkan untuk menyampaikan pendidikan seks kepada anak-anaknya. Seperti ketika sedang makan es krim bersama keluarga.

"Kami seringkali membahas soal pendidikan seks kepada anak-anak dalam keadaan santai, misalnya saat makan es krim, baru saya masukkan informasi-informasi soal itu," ujar Mona Ratuliu di Jakarta, Kamis (8/5).

Ibu dari tiga orang anak ini mengatakan, pendidikan seks bisa disampaikan melalui buku cerita atau membicarakan soal kasus-kasus tertentu, namun tetap pada porsi dan gaya anak-anak.

Melalui perbincangan yang santai, Mona menyampaikan tentang bagaimana merawat kebersihan organ intim pria dan wanita, sebagaimana merawat anggota tubuh lain seperti, mata, hidung dan telinga.

"Saya menggunakan kata penis dan vagina untuk pendidikan seks anak saya, bukan istilah lain. Agar tidak terjadi kesalahan informasi, ketika di sekolah ada informasi yang sama," kata Mona.

Menurut perempuan kelahiran Jakarta, 31 Januari 1982 ini, obrolan tentang pendidikan seks bukan merupakan hal yang tabu bagi keluarganya, karena setiap hari disampaikan kepada anak-anak.

"Bagi kami itu tidak tabu. Karena ini harus dimulai. Prinsipnya adalah bagaimana menyampaikan informasi tersebut dengan cara yang sangat nyaman," ujar Mona.

Namun, lanjut Mona, ia tidak serta merta memborbardir anak-anaknya dengan informasi seks berlebihan yang bercampur kekhawatiran, karena hal itu bisa menimbulkan trauma.

"Sekarang kasusnya lagi marak, kami sebagai orang tua pasti takut. Nah, kalau pendidikan seks dilakukan secara berlebihan kepada anak-anak, nantinya anak jadi trauma dan takut tentang hal itu, kan tidak baik juga," kata Mona.

Mona juga tidak mengharuskan anak-anaknya untuk bersalaman dengan orang lain, karena ia menganggap hal tersebut adalah hak anak untuk mau atau menolak melakukannya.

"Saya tidak pernah mewajibkan mereka untuk mau bersalaman atau cium. Karena mereka berhak menerima dan menolaknya. Itulah bagaimana saya menumbuhkan cara menjaga tubuh sendiri kepada anak-anak," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA