Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Dakwah Islam di Bumi Nuu Waar (2-habis)

Senin 05 May 2014 05:55 WIB

Red: Damanhuri Zuhri

jambore nasional afkn didik santri berkarakter

jambore nasional afkn didik santri berkarakter

Foto: dok.afkn

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ratna Ajeng Tejomukti

Islam agama yang pertama hadir di Papua.

Mereka dikenalkan kembali bagaimana kehidupan Islam yang indah. “Kami kenalkan mereka bagaimana ibadah Islam dari mulai shalat bahwa shalat semua harus terbebas dari hal yang kotor dengan wudhu, mandi besar, berpakaian rapi, dan wangi,” kata Ustaz Fadzlan.

Pembinaan mualaf pun tak luput dari dakwah AFKN. Pihaknya tidak bisa membiarkan mereka untuk menjalankan ibadah sendiri-sendiri.

Mereka harus tetap dibina, biasanya setiap tiga bulan sekali dai dari kota secara bergantian dikirimkan ke kampung-kampung Muslim.

Wakil Ketua AFKN Kabupaten Fak-Fak Jabarudin Lahamundu mengatakan bahwa penyebaran dakwah memang membutuhkan  waktu.

“Kami harus merencanakan dengan matang kegiatan  dakwah di pedalaman,” ujar mantan anggota DPR RI  tahun 2004-2009 ini.

Jabar menjelaskan saat melakukan dakwah, harus mempersiapkan logistik bagi masyarakat daerah tersebut.  “Kita harus tahu kebutuhan mereka saat ini, paling penting biasanya masalah ekonomi,” katanya.

Ia menerangkan berdakwah tidak langsung bicara soal Islam, tetapi bicara mengenai kebudayaan mereka. Berbeda halnya ketika melakukan dakwah di daerah perkotaan, seperti di Fak-Fak.

Sebagai daerah berpenduduk mayoritas Muslim, Jabar berusaha agar masyarakat Fak-Fak tidak terpengaruh  dengan gaya hidup hedonis yang jauh dari agama. “Kami selalu mengadakan kegiatan keagamaan yang menarik  minat masyarakat Muslim,” ujarnya.

Kini pengaruh budaya luar mulai menjangkiti pemuda Islam di Papua. “Kenakalan remaja, seperti bermabuk- mabukan, seks bebas yang berakibat terjangkit HIV/AIDS, balapan liar sudah makin marak,” katanya memaparkan.

Oleh sebab itu, perlu ada benteng yang kuat agar anak-anak yang belum terpengaruh tidak ikut-ikutan. “Kami mengundang dai-dai dari Jakarta dan mengadakan hiburan Islam agar mereka tidak terpengaruh dengan hal negatif,” ujar Jabar.

Selain itu, pembina Arrahman Quranic Learning Center (AQL) Ustaz Bachtiar Nasir mengatakan organisasi AFKN di Irian harus semakin kuat sehingga masyarakat Muslim selalu istiqamah dalam menjalani Islam secara kaffah.

“Saya tidak tahu apa jadinya masyarakat Papua jika tidak ada pemuda-pemuda Islam AFKN yang siap berkorban untuk Islam,” kata Sekjen MIUMI ini.

Mereka tanpa rasa letih dan mendapatkan imbalan selalu membantu para dai di Papua untuk berdakwah di Irian hingga pedalaman.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA