Merasa Dicurangi, Caleg PKS Protes PPS
Sabtu , 12 Apr 2014, 20:05 WIB
Pemilu 2014

REPUBLIKA.CO.ID, KOLAKA -- Merasa dicurangi saat penghitungan suara di tingkat KPPS, Mansyur, calon anggota legislatif dari PKS, mendemo panitia pemungutan suara di kantor kelurahan Kolakaasi, Kecamatan Latambaga, Kabupaten Kolaka.

Salah seorang saksi PKS di TPS 7, Mauliana, mengatakan ada dugaan kecurangan yang dilakukan oleh Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) saat melakukan penghitungan suara karena kertas suara milik caleg dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dinyatakan batal.

"Saat membacakan proses penghitungan, ketua KPPS menusuk surat suara itu dengan kuku sehingga dinyatakan batal karena dua lobang dalam kertas suara itu," katanya saat ditemui di kantor kelurahan Kolakaasi, Sabtu.

Menurut dia, dugaan kecurangan yang dilakukan oleh ketua KPPS itu juga dilihat oleh empat orang saksi lainnya sehingga saat akan melakukan keberatan atas peristiwa itu sudah tidak bisa lagi dilakukan.

"Saat itu kami mau keberatan tapi tidak bisa dilakukan karena berita acaranya sudah ditanda tangani," ungkapnya.

Sementara caleg asal PKS, Mansyur, mengatakan data yang ada pada tim untuk TPS 7 di Kelurahan Kolakaasi jumlah suara berkisar 29 suara.

"Namun, anehnya ketika proses perhitungan, hanya satu suara yang lainnya batal," katanya.

Untuk itu, kata dia, meminta kepada pihak PPS bersama dengan panwas untuk membuka kotak suara itu dan dilakukan penghitungan ulang di TPS 7 sehingga warga lainnya juga bisa melihat secara jelas.

"Kami hanya meminta membuka kotak suara itu di kelurahan agar masyarakat bisa mengetahui," ungkapnya.

Hingga berita ini diturunkan puluhan warga masih menunggu sikap dari pihak KPU dan Panwas Kabupaten kolaka terkait permintaan warga agar kotak suara di TPS 7 untuk dibuka.

Redaktur : Didi Purwadi
Sumber : Antara
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar