Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

LKNU Sumenep Jadikan Pesantren Pusat Penanggulangan TB

Senin 24 Mar 2014 07:31 WIB

Red: Julkifli Marbun

Penyakit TBC (ilustrasi).

Penyakit TBC (ilustrasi).

Foto: gsahs.nsw.gov.au

REPUBLIKA.CO.ID, SUMENEP -- Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur, menyepakati untuk menjadikan lembaga pondok pesantren sebagai pusat penanggulangan tuberkulosis atau penyakit TB/TBC.

Ketua LKNU Sumenep Hadariyadi, Minggu mengatakan, lembaganya telah melakukan kajian tentang potensi dan tantangan penanggulangan TB dengan melibatkan pondok pesantren, dan hasilnya pesantren bisa menjadi mitra, dengan berbagai pertimbangan.

"Salah satunya pondok pesantren merupakan pusat pendidikan dan lembaga ini bersentuhan secara langsung dengan masyarakat," katanya.

Jika pondok pesantren menjadi motor penggerak dalam penanggulangan TB, maka hasilnya jelas akan lebih optimal. Disamping itu, melalui gerakan pesantren tersebut, diharapkan nantinya pola hidup sehat kalangan santri akan lebih baik.

Hadariyadi mengatakan, LKNU Sumenep perlu melakukan gerakan penanggulangan TB, mengingat penyebaran tuberkulosis di daerah ini tergolong parah. Penanggulangan jenis penyakit itu juga rumit, karena memerlukan masa pengobatan hingga enam bulan.

"Keinginan menjadikan pesantren sebagai motor penggerak penanggulangan TB, karena hal ini kan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, bahkan hidup bersih dan sehat dalam ajaran kita justru menjadi keharusan," ujar Hadariyadi.

Keinginan LKNU untuk membantu memberantas TB di Sumenep, karena beberapa hal. Selain karena jumlah penderita TB di kabupaten paling timur di Pulau Madura ini memang sangat banyak, juga didasarkan pada hasil "bahtsul masail" atau pembahasan masalah PBNU tentang penanggulangan TB pada September 2006.

NU mendasarkan penanggulangan TB ini pada pernyataan ulama besar Islam Imam Al-Ghazali dalam kitab Al-Mustashfa yang menyebutkan bahwa kewajiban menutup sesuatu yang dapat mendatangkan mudharat (dzariah) adalah kewajiban yang tidak dapat ditawar-tawar (qat'iy).

"Nah, dasar itulah yang mendorong LKNU Sumenep hendak menjadikan pesantren sebagai pusat penanggulangan TB di Sumenep ini," terang Hadariyadi.

Berdasarkan data di Dinas Kesehatan Pemkab Sumenep, di wilayah itu warga yang banyak terserang TB di tiga kecamatan, yakni Batang Batang, Sapeken dan Pragaan.

Penderita TB di Kecamatan Batang Batang sebanyak 144 orang, Sapeken tercatat 123 orang dan di Pragaan terdata 114 orang.

Tahun 2012, kata dia, warga yang diketahui menderita TBC sebanyak 1.840 orang dari satu juta lebih penduduk di wilayah itu. Sedangkan pada 2013, jumlah warga Sumenep yang menderita TBC tercatat 1.704 orang.

Jumlah ini tergolong sangat banyak. Pada 2012 Kabupaten Sumenep menempati urutan kelima dengan jumlah penderita TB terbanyak di Jawa Timur setelah Surabaya, Jember, Banyuwangi dan Sidoarjo. Namun saat ini, posisi Sumenep justru meningkat menjadi urutan kedua setelah Surabaya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA