Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

Bursa Saham Global Rontok Gara-Gara Rencana Yellen

Kamis 20 Mar 2014 18:54 WIB

Red: Yeyen Rostiyani

Dua pialang memantau pergerakan saham di bursa saham New York Stock Exchange. (Ilustrasi)

Dua pialang memantau pergerakan saham di bursa saham New York Stock Exchange. (Ilustrasi)

Foto: Reuters/Brendan McDermid

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO - Bursa saham global rontok pada Kamis (20/3) gara-gara komentar kepala the Fed, Janet Yellen. Menurut dia, the Fed akan menaikkan tingkat suku bunga dalam waktu dekat ini. 

Rencana itu langsung mengguncang pasar Asia dan Eropa pada Kamis setelah terlebih dulu membuat pasar bursa Wall Street merosot dan menaikkan nilai dolar AS sehari sebelumnya.  

Komentar Yellen dibuat seusai pertemuan pertama the Fed sejak ia memimpin bank sentral AS tersebut. Kenaikan suku bunga itu tampaknya lebih cepat dari perkiraan pasar modal sebelumnya.

DAX di Jerman kehilangan 0,5 persen sehingga menjadi 9.226,84 pada perdagangan awal, Kamis. Penurunan juga terjadi di lantai bursa CAC 40 di Prancis sebesar 0,4 persen menjadi 4.289,02. Dari Inggris, bursa FTSE 100 memangkas 0,8 persen menjadi 6.520,48. 

Kontrak berjangka Wall Street diperkirakan akan melanjutkan tren penurunan seperti sehari sebelumnya. Sedangkan di Dow penurunan tercatat sebesar  0,1 persen yaitu 16.122 dan penurunan 0,1 persen juga terjadi pada S&P 500 yaitu sebesar 1.850,30.

Hiromichi Tamura, kepala strategis Nomura Securities Co. di Tokyo mengatakan, dunia memang sudah memperkirakan kenaikan suku bunga di AS. Namun, "ada hal yang mengejutkan" dalam pernyataan Yellen.

Dalam pernyataan pers, Yellen memang mengisyaratkan kenaikan suku bunga akan dilakukan pada semester awal 2015. Kerangka waktu ini lebih awal dari yang diduga pasar selama ini. 

The fed juga akan memotong pembelian obligasi bulanan dari 65 miliar dolar AS menjadi 55 miliar dolar AS. Kebijakan ini sebagai bagian dari pengurangan paket stimulus moneter yang dilakukan the Fed. 

Pada Rabu, nilai dolar AS terdongkrak ke posisi tertinggi sejak Agustus lalu, akibat rencana meningkatkan suku bunga. Nilai tukar euro pun turun dari 1,3825 dolar AS menjadi 1,3797 dolar AS. Sementara nilai tukar dolar terhadap yen justru turun dari 102,46 yen menjadi 102,42 yen.

Bursa saham Nikkei 225 di Jepang merosot 1,7 persen menjadi 14.224,23 dan Kospi di Korea Selatan turun sebesar 0,9 persen menjadi 1.919,52.

Bursa Hang Seng di Hong Kong  turun 1,8 persen menjadi 21.182,16. Saham juga berguguran di lantai bursa Taiwan, Australia, India, dan Asia Tenggara. 

Benchmark untuk minyak mentah AS untuk pengiriman April dilaporkan turun sebesar 27 sen menjadi 100,10 dolar AS per barel dalam perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange. Sedangkan perdagangan dengan sistem kontrak naik 67 sen menjadi 100,37 dolar AS  pada Rabu. Sebagian besar perdagangan dialihkan ke kontrak pada Mei dengan rentang naik dan turun pada kisaran 33 sen yaitu 98,84 dolar AS per barel. 

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA