Friday, 21 Muharram 1444 / 19 August 2022

Mengintip Islam di Bekas Negara Komunis (2-habis)

Rabu 12 Mar 2014 20:44 WIB

Red: Chairul Akhmad

Muslim di Albania.

Muslim di Albania.

Foto: Reuters

Oleh: Ani Nursalikah

Di bawah kepemimpinan diktator komunis Enver Hoxha, Albania untuk pertama kalinya resmi menjadi negara ateis di dunia pada 1967.

Pada Mei tahun yang sama sebanyak 2.169 masjid, gereja, kuil dan institusi keagamaan ditutup, diubah fungsinya atau dihancurkan. Mereka yang masih menganut agama tertentu jika terlihat mengenakan simbol keagamaan dijebloskan ke penjara selama 10 tahun.

Pada 1992, ratusan Muslim memadati Masjid Ethem Bey di pusat Kota Tirana. Mereka berkumpul untuk melaksanakan ibadah resmi  untuk pertama kalinya sejak 24 tahun.

Sekitar 15 ribu Muslim mendengarkan dengan rasa haru dan tidak percaya saat muazin mengumandangkan azan kembali yang bergema di jalan-jalan kota.

Selama periode Komunis, banyak umat Islam yang menjalankan ibadah secara sembunyi-sembunyi. Padahal sebelum 1967, banyak Muslim yang bisa dengan bebas membaca Alquran. Bahkan, telegram dari negara Muslim lain tiap tahun tiba untuk mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Sebuah survei yang dilakukan surat kabar Tirana pada 2009 menunjukkan, komunitas Muslim di Albania memiliki 568 masjid Sunni dan 70 makam besar Bektashi. Tidak ada data spesifik mengenai jumlah masjid dan makan besar yang dibangun kembali setelah berakhirnya Perang Dingin.

Di antara masjid yang dibangun kembali berada di Gjirokastër, kota kelahiran Enver Hoxha dan Masjid  Abdurrahman Pashi di Peqin, dekat Elbasan. Masjid Peqin adalah salah satu contoh paling penting kebudayaan Islam di Albania. Masjid ini dibangun pada 1822.

Masjid dilengkapi dengan menara jam dan menara yang terhubung dengan bagian utama masjid. Sedangkan Masjid Shkodër adalah satu-satunya masjid di Albania yang arsitekturnya dipengaruhi gaya kekaisaran Istanbul, Turki.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA