Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Malaysia Bantah MAS Jatuh di Selat Malaka

Rabu 12 Mar 2014 13:04 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Mansyur Faqih

 Counter check-in Malaysia Airlines di Bandara Internasional Beijing, Cina, Senin (10/3).

Counter check-in Malaysia Airlines di Bandara Internasional Beijing, Cina, Senin (10/3).

Foto: EPA/Rolex Dela Pena

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Kepala Angkatan Udara Malaysia Rodzali Daud membantah kalau pesawat MAS telah terlacak oleh radar militer di Selat Malaka yang jauh dari rute penerbangan pesawat itu. 

Dilansir dari BBC, Rodzali mengatakan pernyataan yang muncul di sejumlah media lokal itu tidak benar. Meski pun diakui ada kemungkinan pesawat itu telah berbalik arah. 

Sebelumnya, sejumlah media lokal memberitakan kalau pesawat MAS telah terdeteksi oleh radar militer di Selat Malaka. Pernyataan tersebut mengutip komentar Rodzali. Namun kemudian dibantah lagi hari ini. 

Sementara itu, Vietnam mengatakan mempertimbangkan untuk menghentikan beberapa aktivitas pencarian MAS. "Kami telah memutuskan untuk menghentikan misi pencarian dan penyelamatan untuk sementara, sambil menunggu informasi dari Malaysia," kata wakil Menteri Transportasi Vietnam Pham Quy Tieu.

Pada awal pekan ini, Malaysia telah memperluas wilayah pencarian di tengah-tengah perdebatan lokasi terakhir pesawat tersebut. Upaya pencarian pun difokuskan di antara perairan Malaysia dan Vietnam. 

Pejabat berwenang Malaysia awalnya mengatakan pesawat itu telah menghilang sekitar satu jam setelah terbang dari Kuala Lumpur. Pesawat tersebut terbang menuju Laut Cina Selatan, namun hingga kini tidak ada sinyal darurat yang dikirimkan. 

Upaya pencarian MAS ini telah dilakukan dengan mengerahkan setidaknya 40 kapal dan 34 pesawat dari berbagai negara. Mayoritas penumpang pesawat itu merupakan warga Cina. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA