Friday, 21 Muharram 1444 / 19 August 2022

Hojas Albania versus Hojas Arab (2)

Kamis 06 Mar 2014 14:58 WIB

Red: Chairul Akhmad

Muslim Albania melaksanakan shalat Idul Fitri di Kota Tirana.

Muslim Albania melaksanakan shalat Idul Fitri di Kota Tirana.

Foto: Reuters/Arben Celi

Oleh: Teguh Setiawan

Pada 1924, dalam upaya mempertahankan Islam sebagai identitas nasional Albania, sejumlah ulama di Tirana mendirikan Albania’s Sunni Muslim Community (ASMC).

Sebelum komunis berkuasa, ASMC mengelola banyak tanah wakaf, madrasah, dan aset-aset produktif, untuk membiayai ratusan masjid, menghidupi para imam dan guru agama, serta menjamin kelangsungan pendidikan anak-anak Muslim Albania.

Hoxha membubarkan ASMC, dan menasionalisasi semua asetnya. Pada 1991, ASMC muncul lagi dengan nama baru; Albanian Islam Community (AIC), dan menjadi satu-satunya organisasi Muslim Albania yang diakui pemerintah. Namun pemerintah tidak segera melimpahkan aset ASMC yang disita rezim komunis ke AIC secepatnya.

Generasi muda Muslim Albania, dengan dukungan dari negara-negara Timur Tengah, berusaha mengambil alih AIC, mengelola semua aset, mengontrol madrasah dan masjid. Salafi, subfaksi di tubuh generasi muda Muslim Albania di AIC, mencoba menarik Bektashi—sempalan Syiah yang menolak semua syariat Islam—ke dalam AIC.

Yang muda lebih agresif, generasi tua cenderung defensif. Sampai sekian tahun sejak pemerintah Albania mengembalikan aset umat Islam, generasi tua tetap menguasi AIC.

Generasi muda bergerak di luar gedung organisasi. Mereka mencari dana dari Arab Saudi, Yaman, dan negara-negara Arab lainnya, untuk pembangunan ratusan madrasah dan masjid.

Di madrasah-madrasah yang dibangunnya, generasi muda mengajarkan Bahasa Arab. Bahkan, sejumlah sekolah menggunakan Bahasa Arab sebagai pengantar. Mereka meramaikan masjid dengan shalat lima waktu berjamaah. Di masjid generasi tua penganut Hanafi, masjid tidak ubahnya gereja; terlihat ramai hanya sehari dalam sepekan.

Di level bawah, pertarungan terjadi antara Muslim pro-Arab dan Turki. Mereka yang pro-Arab mengidentifikasi diri dengan berpakaian ala Arab, dengan celana panjang sebatas mata kaki, dan sorban. Yang pro-Turki, berpakaian seperti biasa.

Yang pro-Arab mengecam Muslim pro-Turki sebagai orang  yang abai, dan lebih mengedepankan praktik-praktik keagamaan yang bertentangan dengan Islam. Mereka berupaya meletakkan pondasi keislaman yang benar di masyarakat Albania, dengan membangun madrasah untuk mendidik generasi esok, serta membangun ratusan masjid.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA