Monday, 5 Jumadil Akhir 1442 / 18 January 2021

Monday, 5 Jumadil Akhir 1442 / 18 January 2021

Meminimalkan Lubang di Operasi Usus Buntu

Rabu 05 Mar 2014 21:44 WIB

Rep: Indah Wulandari/ Red: Dewi Mardiani

Usus Buntu

Usus Buntu

Foto: healthhype.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemajuan teknologi pembedahan dengan minimal invasif (pembedahan) semakin pesat. Salah satunya terobosan operasi usus buntu melalui pembedahan satu lubang saja atau disebut Single Incision Laparoscopic Surgery (SILS).

“SILS memberikan terobosan dengan menyempurnakan tingkat pembedahan minimal infasif pada kasus apendisitis,” kata spesialis laparoskopi RS Omni Pulomas, Jakarta, dr Tony Sukentro SpB.

SILS, menurutnya, sebuah penyempurnaan tingkat operasi laparoskopi yang tadinya dengan tiga lubang masuk menjadi satu lubang saja. Awalnya, seorang pasien harus dibedah di bagian umbilikus (pusar) dan dua alat lagi harus dimasukkan di luar umbilikus. Namun, dengan SILS, semua berpusat di area pusar saja.

Cara bedah satu lubang ini sebetulnya sudah lama diterapkan di Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Khusus di Indonesia, dr Tony mengklaim, RS Omni Pulomas menjadi salah satu penganutnya.

Dokter bedah lulusan FK UI ini memaparkan minimal invasif tercapai, jika  dokter bisa seminimal mungkin membuat luka. Keuntungan lain dari cara bedah ini karena rasa nyerinya banyak berkurang, masa pemulihannya  pun lebih cepat. “Yang tidak kalah penting kosmetiknya atau tampilan pada kulit terlihat sempurna karena tidak akan ada lagi bekas titik di luar umbilikus, terutama bagi para wanita tentu sangat berpengaruh,” kata dr Tony.

Keuntungan SILS juga sangat dirasakan pasien yang berbakat keloid. Operasi ini menjadi bahan pertimbangan untuk menjadi pilihan utama.

Salah seorang pasien, Yani Setiawan (29 tahun), memilih SILS untuk mengangkat usus buntunya (apendiktomi). Ia mengakui, bekas lukanya hanya nampak seperti bekas garis luka sepanjang 0,5 cm.

Tony kembali menjelaskan, sebenarnya teknologi ini sudah sempat dipopulerkan, namun mengalami kemunduran karena tingkat kesulitan yang tinggi dan penambahan alat operasi yang cukup mahal. Harga alatnya sekitar 800 dolar AS atau kini sekitar Rp 9,6 juta.

Karena itu, lanjutnya, dibuatlah terobosan dengan menggunakan alat khusus, sehingga tidak memerlukan tambahan biaya di RS Omni Pulomas. Sehingga operasi bisa dilakukan dengan biaya dan waktu operasi yang sama seperti operasi laparoskopi dengan tiga lubang.

“Kalau bisa dilakukan operasi dengan satu lubang dengan benefit seperti tadi kenapa harus dilakukan dengan tiga lubang sayatan untuk operasi apendiks?” katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA