Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Museum Islam Australia Beroperasi Maret

Selasa 18 Feb 2014 16:11 WIB

Red: Damanhuri Zuhri

Pemuka Muslim Australia (ilustrasi)

Pemuka Muslim Australia (ilustrasi)

Foto: AP PHOTO

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih

Maret akan menjadi momentum yang bersejarah untuk Muslim Australia. Museum Islam pertama di Benua Kangguru tersebut akan resmi beroperasi bulan depan tepatnya pada 3 Maret.

Museum Islam yang menelan dana hingga 10 juta dolar AS ini sudah bisa dikunjungi oleh masyarakat Australia, juga rombongan siswa sekolah.

Direktur Edukasi Museum, Sherene Hassan, mengatakan paling tidak sudah ada 30 sekolah yang mendaftarkan siswanya untuk mengunjungi museum yang berada di Thornbury ini.

Sekolah-sekolah yang berada di Victoria, Tasmania, dan Australia Selatan, menurutnya, telah menghubungi lembaganya itu guna mendaftarkan diri pada paket tur perjalanan menyusuri museum.

Pihaknya pun telah mengatur dan mempersiapkan tur bagi para pengunjung, yang nantinya akan menyusuri bagian galeri tentang apa itu agama Islam, sejarah Muslim Australia, kontribusi Islam untuk masyarakat Australia, arsitektur Islam, dan mengenalkan seni budaya Islam.

Selain itu, dalam kancah global, para pengunjung bisa mengetahui kontribusi cendekiawan Muslim dalam ilmu matematika, astronomi, seni, musik, juga bisa mencoba bermain catur raksasa.

Selain itu bisa mengikuti workshop yang mengupas tentang mozaik dan kaligrafi. Bahkan, para pengunjung bisa mencoba untuk mengenakan pakaian ihram. “Kostum untuk haji dan umrah,” katanya seperti dilansir dari heraldsun.

Direktur dan penggagas berdirinya museum, Moustafa Fahour (32), mengatakan tujuan didirikannya museum ini adalah untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat Australia.

Meliputi Islam dan kontribusi positif Muslim bagi masyarakat, terutama Australia. “Saya pikir ini harus untuk menghapus stigma miring Islam,” ujar dia.

Dia meyakini, jika masyarakat Australia telah mengenal Islam dengan lebih dekat, akan tercipta sebuah keharmonisan di tengah masyarakatnya. Di daerah ini telah ada museum sejarah Cina, Yunani, dan Yahudi.

Karena itu, kehadiran Museum Islam ini akan memperkaya khazanah kemuseuman di Australia serta membuat hubungan antara budaya dan agama bisa tercipta lebih baik.

Dia mengungkapkan, cita-cita yang ada sejak 2010 itu perlahan terealisasi kini. Donasi diperoleh dari berbagai pihak, bukan dari umat Muslim saja, melainkan juga dari pemeluk agama lain dari pemerintah hingga museum ini berdiri.

Selain galeri dan benda-benda bersejarah tentang Islam dan Nabi Muhammad yang dipamerkan, museum ini juga menyiapkan berbagai fasilitas bagi pengunjung.

Antara lain, mushala, halaman belakang yang dijadikan habitat unta, juga kafe yang menyajikan makanan-makanan khas Arab. Rencananya, museum ini beroperasi setiap Senin hingga Jumat dengan biaya tiket sebesar 10 hingga 12 dolar AS.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA