Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Mansa Musa, Pioner Kejayaan Mali (1)

Kamis 13 Feb 2014 18:58 WIB

Red: Chairul Akhmad

Haji Mansa Musa dan rakyatnya (ilustrasi)

Haji Mansa Musa dan rakyatnya (ilustrasi)

Foto: Kalitv.com

Oleh: Afriza Hanifa

Perjalanan haji Mansa menjadi pintu gerbang perkembangan Islam secara siginifikan di Mali.

Menyebut nama Mansa Musa maka kita tengah membicarakan salah satu orang terkaya sepanjang masa. Tak hanya kaya raya, ia berkiprah dalam membangun peradaban Mali. Dialah yang gencar menyebarkan Islam di negara Afrika Barat itu.

Mansa Musa merupakan keturunan dari Sunjata, pendiri kerajaan Mali. Selama 25 tahun, Mansa memimpin kerajaan dan membawa masa kejayaan Mali. Jika kakeknya, Sunjata, memilih fokus dalam membangun kerajaan etnis Malinke, etnis Muslim di Mali, Mansa fokus dalam penerapan praktik ibadah masyarakat.

Sosok Mansa digambarkan sebagai seorang raja yang saleh dan sangat dihormati di seluruh Afrika. Sang raja kaya ini sangat antusias dalam mempelajari Alquran. Ia seorang yang tegas dan enggan bersujud pada penguasa lain. Ia hanya mau bersujud di hadapan Allah.

Pada 1324 M, Mansa melakukan perjalanan haji ke Makkah. Perjalanan ini sangat terkenal dalam catatan sejarah. Sebab, rombongan Mansa diiringi 100 unta dengan tiap unta membawa penuh emas. Terdapat pula 500 budak dengan tiap budak membawa emas.

Ia juga ditemani sang istri, Inari Kunate, yang membawa 500 pelayan. Sungguh rombongan yang kaya raya. Tak heran jika Mansa tercatat sebagai orang terkaya nomor wahid sepanjang masa. Kendati demikian, hal tersebut bukanlah luar biasa bagi Mansa mengingat tanah Mali sangat produktif emas.

Berangkat dari Afrika, sang raja membutuhkan waktu lebih dari setahun hingga tiba di Tanah Suci. Di sepanjang perjalanannya, Mansa melakukan banyak hal, termasuk berdagang. Ia pun beberapa kali singgah di kota dagang untuk memenuhi bekalnya hingga tiba di Makkah.

Lalu, peristiwa besar terjadi ketika singgah di Mesir. Rombongan Mansa disambut baik oleh Sultan Mesir. Ia mengizinkan istananya untuk melayani Mansa yang kemudian menetap di Kairo selama tiga bulan.

Atas kebaikan hati sultan, Mansa memberinya hadiah 50 ribu dinar dan ribuan batang emas. Para pedagang Mesir pun berinteraksi dagang dengan rombongan Mansa. Akibat emas Mansa yang beredar di Mesir, nilai emas di negeri Piramida tersebut turun hingga 25 persen.






Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA