Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Perlukah Bertengkar dengan Anak Soal Makan?

Senin 10 Feb 2014 18:13 WIB

Red: Indira Rezkisari

Mengerti anak bisa jadi lebih efektif ketimbang memaksanya untuk makan apa yang diinginkan orang tua.

Mengerti anak bisa jadi lebih efektif ketimbang memaksanya untuk makan apa yang diinginkan orang tua.

Foto: Amin Madani/Republika

REPUBLIKA.CO.ID,

Urusan makan anak seringkali membuat orang tua pusing kepala. Ketika orang tua memaksakan anak menyantap makanan yang diinginkannya, maka anak mungkin akan kehilangan kesenangan dan koneksinya terhadap makanan.

Perlu disadari bahwa sering kali orang tua berusaha memenangkan ‘pertengkaran’ dan merasa senang bila anaknya melahap apa yang diharapkan orang tua. Tetapi, dalam hati anak, ia mungkin merasa benci. Sebab, aktivitas makan berubah jadi kegiatan demi menyenangkan orang tua. Bukan karena anak menikmatinya.

Sebuah studi yang digelar tahun 2008 dan dipublikasikan di Journal of Nutrition Education and Behaviour menemukan fakta berikut. Orang tua yang memaksa balitanya makan buah dan sayur memang melihat ada peningkatan dalam konsumsi buah dan sayur di anak. Tetapi, anak-anak tersebut justru jadi kurang menyukai buah dan sayur.

Supaya orang tua dan anak sama-sama menyukai kegiatan makan, ciptakan kondisi yang win-win alias menyenangkan semua pihak. Orang tua bertanggung jawab menentukan apa yang disajikan saat jam makan dan kapan makanan akan disantap. Lalu, anak bertanggung jawab menentukan apa yang mau dimakan dan berapa banyak yang akan mereka makan.

Agar orang tua tidak kehilangan kontrol terhadap apa yang dimakan anak, orang tua bisa memastikan memasukkan satu atau dua bahan makanan yang akan diterima anak. Di sisi lain, anak diperbolehkan memilih bila mereka tidak mau makan. Kebijakan seperti itu memberi anak kuasa terhadap apa yang dimakannya. Kemudian menghilangkan ketegangan dengan orang dan membuat mereka lebih tertarik untuk mencoba makanan yang dihidangkan di depan anak.

Pakar nutrisi keluarga mengatakan konsep tersebut membantu orang tua memahami anaknya dan apa yang dimakan anaknya. Orang tua pun diharapkan jadi memahami mengapa praktik tidak memaksa anak makan bisa berhasil.

Sebagai contoh, ketika anak berusia 4 tahun yang sedang mengalami slowed growth dan perubahan kognitif, biasanya selera makannya akan rendah. Ia pun akan lebih selektif terhadap pilihan makannya.

Bila orang tuanya tahu kalau selera makan terbaiknya muncul saat sarapan dan makan siang, orang tua bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk memberi asupan terbaik. Termasuk dengan menyediakan kudapan yang bernutrisi dan disukai di sela waktu itu. Sehingga saat makan malam, orang tua bisa lebih tenang saat anak menolak makan. Pengertian membuat orang tua terhindar dari pertengkaran dengan anak soal makan.

 

 

sumber : Huffington Post
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA