Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Tingginya Suku Bunga Akan Ketatkan Uang Beredar

Jumat 07 Feb 2014 05:31 WIB

Rep: Satya Festiani/ Red: Julkifli Marbun

Suku bunga Bank Indonesia

Suku bunga Bank Indonesia

Foto: IST

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tingginya suku bunga akan lebih mengetatkan jumlah uang beredar di Indonesia. Sehingga pada akhirnya inflasi dapat turun. Kenaikan jumlah uang beredar memang akan menaikan inflasi.

Secara kumulatif, suku bunga acuan atau BI rate telah meningkat 175 basis poin (bps) menjadi 7,5 persen. Kenaikan tersebut direspons perbankan dengan menaikan bunga simpanan. "Sehingga masyarakat tertarik untuk menyimpan uang di bank," ujar Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Peter Jacobs, Kamis (6/2).

Di sisi lain, kenaikan BI rate juga direspons perbankan dengan menaikan bunga kredit. Penyaluran kredit akhirnya melambat dan perbankan menyimpan uang tersebut di BI melalui instrumen seperti SBI dan SDBI. Uang beredar pada akhirnya berkurang sehingga inflasi turun. "Pertumbuhan kredit kemarin masih tinggi sehingga impor masih tinggi. BI melihat itu kemudian menaikan BI rate agar mengurangi laju," ujarnya.

Saat ini, kenaikan suku bunga dana belum langsung direspons oleh peningkatan suku bunga kredit. Rata-rata suku bunga kredit di Desember 2013 sebesar 12,4 persen, sama dengan periode November 2013.

Berdasarkan data BI pada Desember 2013, uang beredar, yang terdiri dari uang kartal, giro dalam rupiah, uang kuasi dan surat berharga selain saham, tumbuh stabil dibandingkan bulan sebelumnya, yakni 12,7 persen year on year (yoy). Uang kartal dan giro dalam bentuk rupiah tumbuh 5,4 persen yoy, melambat dibandingkan November 2013 yang sebesar 8,6 persen yoy. Sedangkan uang kuasi, yang merupakan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terdiri dari simpanan berjangka dan tabungan serta giro valas, tumbuh 14,8 persen yoy, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 13,5 persen.

Pertumbuhan uang beredar secara luas ditopang oleh meningkatnya pertumbuhan simpanan masyarakat di perbakan. Simpanan tersebut didorong oleh kenaikan suku bunga simpanan berjangka 1,3 dan 6 bulan yang mencapai 7,9 persen, 7,6 persen dan 7,5 persen. Bunga tersebut meningkat dibandingkan November yang sebesar masing-masing 7,3 persen untuk jangka waktu 1 dan 3 bulan, serta 7,1 persen untuk jangka waktu 6 bulan.

Simpanan dana masyarakat di perbankan berupa DPK pada Desember 2013 tercatat Rp 3.575,9 triliun, tumbuh 13 persen yoy. Angka tersebut sedikit meningkat jika dibandingkan pertumbuhan pada November yang sebesar 12,3 persen yoy. Jenis DPK yang tumbuh tinggi adalah simpanan berjangka sebesar 13,9 persen yoy, lebih tinggi jika dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 10 persen yoy. "Itu ditengarai akibat kenaikan suku bunga," ujar Peter.

Perlambatan pertumbuhan kredit menahan laju pertumbuhan uang beredar. Kredit yang disalurkan pada Desember 2013 mencapai Rp 3.322,7 triliun, tumbuh 21,4 persen yoy. Angka tersebut sedikit melambat dibandingkan periode November 2013 yang tumbuh 21,9 persen yoy. Namun, perlambatan pertumbuhan kredit tidak banyak mempengaruhi perkembangan uang beredar pada Desember karena belanja pemerintah didorong pada akhir tahun seperti musimannya.

Perlambatan penyaluran kredit terutama terjadi pada sektor perdagangan, hotel dan restoran. Kredit pada sektor tersebut tumbuh 28,6 persen yoy pada Desember 2013, melambat dibandingkan November 2013 yang sebesar 29,3 persen. "Hal ini sejalan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi domestik," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA