Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

‘Perubahan Iklim Harus Diajarkan Sejak SD’

Senin 27 Jan 2014 23:01 WIB

Rep: Dyah Ratna Meta Novia/ Red: Julkifli Marbun

Antisipasi perubahan iklim

Antisipasi perubahan iklim

Foto: ILS

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim mengatakan, tema perubahan iklim penting diimplementasikan dalam kurikulum 2013.  Perubahan iklim ini harus diajarkan sejak SD hingga SMA agar mereka memahami perubahan iklim yang terjadi akhir-akhir ini.

Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) dan kemdikbud, terang Musliar,   bekerjasama dengan UNESCO menyelenggarakan Workshop on the Contribution of ASPnet Schools in Minimizing Climate Change. “Kegiatan ini diikuti 40 kepala sekolah, masing-masing 10 kepala sekolah di jenjang SD, SMP, SMA dan SMK, ini perlu dilakukan agar mereka bisa mengajarkan ilmu perubahan iklim kepada para siswanya,” terangnya di Jakarta, Senin, (27/1).

Para siswa, ujar Musliar, harus diajarkan pengertian tentang perubahan iklim termasuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Ini dimasukkan dalam kurikulum untuk SD hingga SMA.

Perubahan iklim dalam beberapa waktu terakhir, terang Musliar, menyebabkan berbagai bencana alam yang berkepanjangan. Pendidikan menjadi pilar utama dalam mengadaptasikan perubahan iklim kepada generasi muda.

"Melalui pendidikan di sekolah dapat memberikan kesadaran kepada anak didik tentang ancaman perubahan iklim yang akibatnya sudah dirasakan bersama, seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor. Selain itu juga semakin  berkembangnya penyakit malaria, demam berdarah, kerusakan pada tanaman dan lain-lain," ujar Musliar.

Dengan memasukkan tema perubahan iklim pada kurikulum 2013, kata Musliar,diharapkan  generasi muda memahami apa saja penyebab perubahan iklim dan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan. Sehingga anak-anak akan belajar bagaiman cara mengurangi ancaman perubahan iklim dan lebih mencintai lingkungan.

"Pengajaran tentang perubahan iklim ini dapat dilakukan pada berbagai mata pelajaran (mapel) yang relevan. Jadi tidak hanya dalam satu bentuk mata pelajaran," ujar Musliar.
 
Sementara itu, Sekjen Komnas Pendidikan Andreas Tambah mengatakan, sebenarnya tema perubahan iklim itu sudah ada sejak zaman dulu. Dulu pelajaran itu ada di mata pelajaran Ilmu Bumi dan Antariksa (IPBA).

Tema perubahan iklim itu, ujar Andreas, sebenarnya lebih cocok diajarkan sejak SMP sebab siswa SMP sudah mulai meningkat daya nalarnya untuk mempelajari dan memahami perubahan iklim. Sedangkan anak SD masih agak susah nalarnya untuk memahami perubahan iklim, kalaupun diajarkan di SD, mungkin yang ringan dulu sebagai pengantar.  
 
Materi yang diajarkan tentang perubahan iklim, terang Andreas, harus selalu mengikuti perkembangan yang terjadi di lapangan. “Tema perubahan iklim itu bisa dimasukkan ke dalam pelajaran geografi sepaket dengan masalah  iklim, tsunami, gempa bumi jadi satu, “terangnya.

Perubahan iklim, ujar Andreas, perlu diajarkan sebab negara  khatulistiwa itu rawan bencana, kalau anak-anak tidak mengenal alamnya sendiri bagaimana menghadapi masa depan. Padahal bencana sudah sering terjadi di mana-mana.
 
Misalnya gempa, kata Andreas, penduduk pantai termasuk para siswa di sana harus  tahu jika terjadi gempa sebaiknya menghindari laut untuk antisipasi jika terjadi tsunami. “Saya sudah membaca buku-buku pelajaran sekolah terkait perubahan iklim, namun dampaknya belum dimasukkan,” katanya.

Hal yang lebih penting, terang Andreas, pelajaran ini jangan hanya sebatas teori saja namun prakteknya tidak ada. Selama ini kebiasaan di masyarakat orang boros menggunakan tisu dan plastik.

Makanya, kata Andreas, pemerintah sebaiknya membuat aturan yang membatasi penggunaan kertas, air, juga plastik. Ini dilakukan  agar pelajaran perubahan iklim ini tidak hanya menjadi teori saja.

“Sebagai contoh, pemerintah harus membuat aturan supermarket jangan mengandalkan plastik untuk membawa produk-produk yang dibeli konsumen. Di beberapa negara yang  sadar lingkungan, konsumen wajib membawa tas sendiri sehingga tidak membutuhkan kantong plastik,”terang Andreas.

Kalau kebiasaan buruk yang merusak lingkungan tetap dibiarkan, ujar Andreas, maka anak-anak tidak akan mengalami perubahan apa-apa sebab ilmu itu harus dipraktekkan. Agar perubahan iklim yang menimbulkan bencana bisa dikurangi maka pemerintah harus membuat aturan yang mengatur warganya untuk lebih peduli dan sadar terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

Di tempat terpisah, anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS Herlini Amran mengatakan, perubahan iklim memang harus diajarkan kepada anak-anak sejak SD agar mereka tahu mengenai perubahan iklim. Namun pengajaran dilakukan dengan  cara yang sederhana dan mudah dimengerti oleh jangkauan nalar mereka.

“Tapi perubahan iklim ini hanya diajarkan saja sebagai pengenalan. Perubahan iklim jangan dijadikan bahan ujian  di SD,” kata Herlini.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA