Saturday, 26 Jumadil Akhir 1443 / 29 January 2022

Saturday, 26 Jumadil Akhir 1443 / 29 January 2022

Pengawasan Penggunaan Aplikasi Alquran Masih Sulit

Selasa 21 Jan 2014 14:35 WIB

Rep: Amri Amrullah/ Red: Maman Sudiaman

Membaca Alquran (ilustrasi)

Membaca Alquran (ilustrasi)

Foto: Republika/Agung Supriyanto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kabid Pengkajian Alquran Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMA), Muchlis M. Hanafi menyatakan, pengawasan teks Alquran yang berbentuk soft seperti aplikasi mobile masih sulit. Pihaknya mengaku belum bisa melakukan pengawasan secara langsung. "Kami lebih banyak menunggu kesadaran produsen aplikasi Alquran mendaftarkan aplikasinya untuk di tashihkan," ungkapnya, Selasa

Selain itu, pihaknya lebih sering menunggu laporan dari masyarakat apabila dijumpai ada aplikasi Alquran yang berbeda dengan teks mushaf cetak yang sudah ditashihkan Kemenag. Karenanya, ia menghimbau kepada masyarakat agar tetap berhati-hati menggunakan aplikasi Alquran di gadget dan perangkat mobile. "Kalau bisa dicek terlebih dahulu teksnya apakah sesuai terjemahan Kemenag atau tidak."

Ke depan, pihaknya akan memperbaharui regulasi pengawasan teks Alquran ini, khususnya untuk perangkat aplikasi mobile. Walaupun, kata dia, selama ini regulasi sudah mengatur hal itu yakni LPMA bertugas mengawasi teks AlQuran dalam bentuk cetak atau elektronik. Akan tetapi, menurut dia, regulasi ini perlu dipertegas aturan dalam bentuk aplikasi mobile seperti apa.

Tujuannya agar petunjuk pengawasan lebih jelas dan bisa dikenakan sanksi yang lebih bagi pihak yang dengan sengaja mengubah isi Alquran dalam aplikasi Alquran mobile. LPMA mengungkapkan memang sudah ada beberapa laporan dari masyarkat terkait aplikasi Alquran yang bermasalah dan beberapa sudah kita tindak lanjuti.

Sementara itu, Direktur Urusan Agama Islam di Ditjen Bimas Islam Kemenag, Mukhtar Ali mengatakan pihaknya pun turut khawatir dengan berkembangnya aplikasi Alquran mobile ini. Ia khawatir apabila ini tidak dilakukan pengawasan secara cepat maka akan menyimpangkan pemahaman agama umat.

Ia mengkhawatirkan hal itu karenakan, perkembangan teknologi yang cepat melalui perangkat mobile ini membuat orang memiliki hubungan personal dengan perangkat mobilenya. Ketika aplikasi Alquran mobile yang salah itu menjadi acuan, maka bukan tidak mungkin penyimpangan secara masif juga bisa terjadi.

Mukhtar mengungkapkan ada beberapa temuan dan laporan masyarakat terkait aplikasi Alquran mobile ini mulai dari kesalahan tulisan arab yang berpengaruh pada makna. Hingga ada pihak yang dengan sengaja mengubah teks Alquran demi kepentingan tertentu. "Karenanya kita ingin masyarakat juga sadar ancaman ini, jangan mudah percaya dengan Alquran aplikasi mobile sebelum di cek kebenarannya," ungkap dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA