Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Teknologi

Modernisasi Menyentuh Kiswah

Senin 20 Jan 2014 07:31 WIB

Red: Zaky Al Hamzah

Kiswah

Kiswah

Foto: makkah.net

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Ferry Kisihandi

Modernisasi akan bersentuhan dengan kiswah, kain penutup Ka’bah. Pemerintah Arab Saudi kini berkeinginan mengimpor teknologi canggih dalam proses pembuatan kiswah. Ada sejumlah alternatif negara yang menjadi pilihan untuk menghadirkan teknologinya di pabrik kiswah.

Negara-negara tersebut adalah Amerika Serikat (AS), Jepang, Swiss, Italia, dan Jerman. Kebijakan ini bertujuan menyeleraskan fasilitas pabrik kiswah dengan perkembangan zaman. Sebelumnya, modernisasi juga menjelma di Kompleks Masjidil Haram melalui pemugaran.

Arab Saudi tak hanya memperluas fasilitas ibadah, tetapi juga membuat menara jam dan hotel di sekitar Masjidil Haram. Menurut Muhammad Abdullah Bajada, manajer pabrik kiswah, manajemen telah membentuk sebuah komite.

Menurut Bajada, komite ini bertugas mengkaji proses modernisasi di pabrik kiswah. Ini mencakup proses bordir, jahit, dan pelapisan kiswah. “Belum lama ini ada pertemuan khusus untuk mengupayakan modernisasi,” katanya, seperti dilansir Arab News, Ahad (19/1).

Semua pihak yang berkepentingan, jelas dia, hadir dalam rapat tersebut. Binladin Group ikut pula di dalamnya. Keberadaan pabrik kiswah bermula pada perintah Raja Abdulaziz, 1 Juli 1927. Pabrik khusus ini dibangun di Disrtik Ajyad, Makkah.

Bangunan yang tegak di lahan seluas 1.500 meter persegi itu merupakan pabrik pertama Kiswah yang ada di Makkah. Pemerintah Arab Saudi memenuhi semua bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat sebuah kiswah.

Di antaranya, sutra, bahan pencelup, perkakas tenun, serta tenaga kerja. Pada 1962 Raja Saud memerintahkan agar pabrik kiswah berada di pusat Makkah. Lalu, pada 1977 pabrik kiswa baru berdiri di Umm Al-Jud, Makkah. Pendirian berlangsung saat Pemerintah Raja Khaled.

Meski demikian, peresmian pabrik itu dilakukan pada masa kekuasaan Raja Faisal. Di pabrik baru ini terdapat beberapa bagian, seperti bagian pencelupan, menenun sutra, membordir kalimat pada kiswah, dan bagian lainnya.

Sekitar 200 orang bergabung di pabrik kiswah ini. Mereka menunjukkan keahlian mereka dalam membuat kiswah. Paling tidak, 670 kg sutra dibutuhkan untuk membuat sebuah kiswah. Sutra ini kemudian dicelup dengan warna hitam.

Sutra yang dipakai pun tak sembarangan. Ada ukuran standar, ketebalannya harus 1,37 mm dan harus kuat. Beragam kalimat atau inskripsi memenuhi hampir seluruh permukaan kiswah. Ayat Alquran dan tanggal pembutan pun disematkan dengan tulisan warna emas.

Pada masa sekarang, kiswah yang menutup bagian luar Ka’bah diganti sekali dalam setahun. Warna kiswahnya hitam. Sedangkan, bagian dalam Ka’bah dilapisi kiswah berwarna hijau. Penggantian dilakukan hanya saat dianggap perlu.

Ada proses saat penggantian kiswah. Sebelum menggantinya, kiswah lama dipotong menjadi beberapa bagian. Lalu, setiap bagian itu diserahkan ke para pemimpin negara dan diplomat Muslim serta pemimpin organisasi dunia yang hadir saat penggantian.

Ada satu bagian pula yang diserahkan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Muhammad Akbar, ekspatriat asal India, mengaku mengumpulkan potongan kiswah. Ia memberikannya kepada para ulama dan cendekiawan Muslim India yang bertandang ke Makkah. n

Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA