Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Fitch: Penerbitan Sukuk 2014 Akan Pecahkan Rekor

Ahad 19 Jan 2014 16:18 WIB

Rep: Ichsan Emrald Alamsyah/ Red: Nidia Zuraya

Sukuk (ilustrasi).

Sukuk (ilustrasi).

Foto: alhudacibe.com

REPUBLIKA.CO.ID, JEDDAH -- Fitch Ratings melaporkan penerbitan Sukuk di Qatar yang mencapai 3 miliar dolar AS akan menjadi rekor di pasar keuangan global. Fitch mencatat, pasar sukuk menjadi sumber dana utama bagi pertumbuhan regional dan belanja pemerintah negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC).

Fitch juga menggaris bawahi, permintaan investor yang bermodal besar juga mendorong penerbitan sukuk. Baik di negara-negara tradisional alias mayoritas Muslim dan juga negara non-Muslim di 2014. Niat beberapa negara untuk menjadi pusat keuangan Islam juga akan memacu penerbitan sukuk.

Dalam laporan awal Fitch, dikutip dari zawya.com baru-baru ini, mereka mengatakan penerbitan sukuk di 2013 menurun 12 persen atau menjadi 120 miliar dolar AS. Padahal di 2012, penerbitan sukuk memecahkan rekor tertinggi senilai 137 miliar dolar AS.

Penurunan terjadi karena pasar khawatir dengan tapering obligasi di Amerika Serikat. Namun, permintaan sukuk masih cukup tinggi dan Fitch berharap penurunan di 2013 lalu menjadi guncangan sementara. Khususnya tren jangka panjang dengan pertumbuhan yang stabil. Maka dengan penerbitan ini setidaknya sejalan dengan rekor yang pernah dicapai 137 miliar dolar AS di 2012.

Mereka juga menambahkan kalau beberapa negara penerbit pertama juga akan meluncurkan sukuk mereka di 2014. Negara itu antara lain Inggris yang akan melepas sukuk sebesar 200 juta poundsterling. Kemudian Hong Kong dan Luksemburg yang mempersiapkan regulasi bagi penerbitan sukuk di negaranya.

Tahun ini, lanjut Fitch, masih memanfaatkan penerbitan sukuk negara dan yang terkait pemerintah. Namun beberapa penerbitan korporasi dan non pemerintah lainnya juga akan hadir. Termasuk sukuk Atlanticlux Lebensversicherung senilai 100 juta dolar AS dengan rating BBB-.

Meski semua penerbitan sukuk ini relatif kecil, namun jumlahnya akan lebih banyak. Negara-negara wilayah Sub-Sahara Afrika juga mempertimbangkan untuk menerbitkan sukuk.

Selain peningkatan permintaan obligasi syariah, emiten juga tertarik dengan peningkatan efisiensi pasar.Hal ini terbukti dari biaya yang tak perlu makin menurun saat ini. Begitu juga dengan proses yang dulu bisa berbulan-bulan saat ini hanya beberapa minggu.

Hanya saja memang permintaan dan penawaran yang tak seimbang membuat harga sukuk lebih rendah ari obligasi konvensional. Namun, dengan berkurangnya ketidakseimbangan Fitch yakin harga takkan lagi berpengaruh.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA