Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Alasan Perempuan Harus Periksa Payudara Sendiri

Rabu 15 Jan 2014 16:37 WIB

Red: Endah Hapsari

Kanker Payudara

Kanker Payudara

REPUBLIKA.CO.ID, Saat ini kanker payudara masih menempati urutan kedua terbanyak yang diderita oleh kaum perempuan setelah kanker serviks (leher rahim). Oleh karena itu, penting bagi kaum Hawa untuk bisa mengenali lebih dini ciri-ciri kanker payudara sehingga jika ditemukan dalam stadium awal, kesempatan untuk sembuhnya masih tinggi. “Meski demikian, bagi Anda yang tidak memililki faktor risiko bukan berarti bebas dari penyakit ini. Siapa pun dapat menderita kanker payudara,” kata onkologis dari Divisi Hematologi & Onkologi Medik Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr Ronald A Hukom MHSc, SpPD-KHOM.

Memeriksa payudara sendiri harus dilakukan para perempuan setiap bulan ketika masuk usia 20 tahun, yakni saat lima hingga tujuh hari sesudah haid. Sedangkan, bagi ibu hamil dan yang telah mengalami menopause disarankan memeriksa payudara sendiri di tanggal yang sama setiap bulan. Lalu, bagaimana cara melakukannya? “Caranya cukup mudah, yakni meraba payudara Anda saat berbaring, mandi, atau ketika berada di depan cermin sekitar 20 menit,” ujar dokter dari RS Dharmais tersebut.

Periksa seluruh jaringan payudara. Apakah terdapat benjolan pada payudara, bagaimana tekstur kulit payudara Anda? Jika ada perubahan yang tidak normal, segera periksakan ke dokter.

Di sisi lain, sebagian perempuan yang mengalami ketakutan menghadapi vonis kanker payudara mencari pengobatan alternatif. Seperti yang dikemukakan survivor dari komunitas Pink Shimmer Inc. Rosmaya. Usai melahirkan anak keduanya medio tahun 2008, ia mendapati terdapat benjolan yang kian membesar di bagian kiri dadanya. “Setelah didiagnosis dokter, mengidap kanker payudara stadium empat, tapi saya justru memutuskan selama dua tahun berobat ke ahli alternatif,” katanya.

Kondisinya justru makin memburuk. Akhirnya, Rosmaya bersedia menjalani kemoterapi. Namun, saat dinyatakan kankernya sudah tidak ada pascaoperasi pengangkatan, ia membandel. Pola makannya tak dijaga serta selalu tidur larut malam. Akhirnya, benjolan di dadanya tumbuh lagi. Kini ia telah menjalani 41 kali kemoterapi untuk menstabilkan virus-virus di tubuhnya. “Ingat tetap berdoa dan jangan memandang kanker dari stadiumnya karena nyawa manusia di tangan Allah,” pesannya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA