Minggu, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 Januari 2020

Minggu, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 Januari 2020

Peneliti: Wanita Lebih Berisiko Terkena Hipertensi

Kamis 02 Jan 2014 18:38 WIB

Rep: Dwi Murdaningsih/ Red: Hazliansyah

Penderita Hipertensi (darah tinggi) sedang diperiksa tekanan darahnya, Ilustrasi

Penderita Hipertensi (darah tinggi) sedang diperiksa tekanan darahnya, Ilustrasi

Foto: Blogspot

REPUBLIKA.CO.ID, -- Kaum wanita agaknya perlu waspada akan penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi dibanding pria. Penelitian terbaru di Wake Forest Baptist Medical Center menemukan adanya perbedaan mekanisme tubuh yang menyebabkan wanita lebih berisiko terkena tekanan darah tinggi. 

Sebelumnya, komunitas medis menganggap tekanan darah tinggi disebabkan oleh mekanisme yang sama, baik pria maupun wanita.

"Ini adalah studi pertama yang menyebutkan jenis kelamin sebagai salah satu elemen pemilihan obat anti-hipertensi," ujar Carlos Ferrario, penulis utama dalam studi tersebut.

Selama sekitar 20-30 tahun ini, kata Ferrario, telah terjadi penurunan angka kematian penyakit kardiovaskuler pada pria yang signifikan. Namun, hal ini tidak terjadi pada wanita. Bahkan, penyakit jantung menjadi penyebab utama kematian di Amerika Serikat.

Menurutnya, jika diberikan obat yang sama, penderita penyakit jantung pada wanita juga turun seperti yang dialami pria.

Dalam studi, peneliti membandingkan 100 pria dan wanita usia 53 tahun atau lebih tua yang hanya mengalami penyakit tekanan darah tinggi. Peneliti mengamati faktor-faktor yang menyebabkan tekanan darah tinggi, apakah faktornya berasal dari jantung atau pembuluh darah. Peneliti mengamati zat-zat yang terlibat dalam sirkulasi darah, serta karakteristik hormonal dari mekanisme yang terlibat.

Peneliti menemukan bahwa wanita berisiko 30-40 persen lebih tinggi terkena hipertensi dibandingkan pria. Ada perbedaan secara fisiologis dalam sistem kardiovaskular antara pria dan wanita, termasuk kadar hormon yang terlibat dalam sistem peredaran darah. Hormon ini diduga ikut berkontribusi terhadap tingkat keparahan serta frekuensi penyakit jantung.

Ferrario menyimpulkan hasil menelitian ini sebagai salah satu rujukan agar para dokter lebih memahami metabolisme secara lebih spesifik, sehingga bisa menyesuaikan dosis dan obat yang diperlukan.

"Kita perlu mengevaluasi dosis dan kombinasi obat untuk membantu menyembuhkan wanita yang menderita hipertensi," kata dia seperti dikutip Eurekalert.org.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA