Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

'4 Terlalu 3 Terlambat' Penyebab Naiknya Angka Kematian Ibu

Selasa 17 Dec 2013 14:53 WIB

Rep: Ira Sasmita/ Red: Mansyur Faqih

Fasli Jalal

Fasli Jalal

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan, angka kematian ibu saat melahirkan terus meningkat. Naiknya angka kematian karena 'Empat Terlalu, Tiga Terlambat'.

Maksudnya, ada empat aspek yang sudah terlalu dilakukan para ibu. Serta tiga hal yang yang terlambat mereka lakukan.

Kepala (BKKBN) Fasli Jalal menjelaskan, pertama para ibu terlalu muda saat hamil. Sehingga rahim belum siap dan membuatkan saluran kelahiran mudah pecah. Ujungnya, kematian saat melahirkan. Karena selnya belum begitu baik, saat melakukan hubungan suami istri terjadi gesekan yang terlalu sering.

"Akibatnya muncul kanker mulut rahim (serviks) yang juga menyebabkan kematian," jelasnya saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Musi Rawas, Sumatra Selatan, Selasa (17/12).

Terlalu yang kedua, lanjut Fasli, para ibu terlalu sering dan kerap dipaksakan melakukan reproduksi berkali-kali. Sehingga, alat reproduksi mudah terkena masalah dan rentan saat melakukan persalinan.

Terlalu yang ketiga, jarak kehamilan terlalu dekat. Itu menyebabkan rahim mudah terkena masalah. Karena baru saja melahirkan, dalam jangka waktu tidak terlalu lama ibu kembali melakukan persalinan.

Terlalu keempat, usia kehamilan ibu yang berusia tua. Ibu berusia di atas 40 tahun memiliki rahim yang tidak fleksibel lagi. Sehingga risiko kematian saat melahirkan cukup tinggi.

Sementara tiga terlambat versi BKKBN, menurut Fasli, adalah terlambat menemukan saat hami mengalami gangguan. Pemeriksaan kehamilan pada tenaga ahli sangat diperlukan untuk mendeteksi jika ada masalah pada janin atau rahim.

"Kemudian saat persalinan terlambat mengirim tenaga ahli. Ketika sudah disiapkan sejak awal, saat ibu hamil ke rumah sakit ternyata petugasnya tidak siap melayani," kata dia.

Program Pusat Informasi Konseling Mahasiswa (PIK Mahasiswa) yang sedang diintensifkan sosialisasinya oleh BKKBN, menurut Fasli merupakan bagian dari antisipasi 'Empat Terlalu dan Tiga Terlambat" tersebut.

PIK Mahasiswa diharapkan mampu menarik mahasiswa sebagai generasi muda untuk menjadi Generasi Berancana (GenRe). 

"Yang mengetahui tentang reproduksi, kapan usia perkawinan, dan usia kehamilan. Para mahasiswa itu diharapkan bisa menyosialisasikan kepada teman-temannya, dan orang yang ada di sekitar tempat tinggal dia," ujar Fasli.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA