Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Merapi Keluarkan Letupan Solfatara

Jumat 06 Dec 2013 08:46 WIB

Rep: nur aini/ Red: Taufik Rachman

Gunung Merapi

Gunung Merapi

Foto: Antara/Sigid Kurniawan

REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN -- Gunung Merapi menunjukkan peningkatan aktivitas meski statusnya masih normal aktif. Letupan solfatara terdeteksi pada Jumat pagi (6/12).

Letupan solfatara muncul beberapa kali dari kawah Gunung Merapi pukul 07.04 WIB waktu setempat. Data tersebut direkam oleh akun twitter @mitigasibpbd.

Dikonfirmasi mengenai aktivitas Gunung Merapi tersebut, Kepala Bidang Kesiapsiagaan Bencana BPBD Sleman, Heru Saptono menilai aktivitas letupan solfatara  belum masuk kategori berbahaya. Hal itu biasa terjadi jika kawah Gunung Merapi terbuka. "Saya sudah cek ke BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi), tidak ada peningkatan aktivitas Merapi," ujarnya, Jumat (6/12).

Aktivitas Merapi yang perlu diwaspadai menurut Heru adalah ketika terjadi gempa multifase atau gempa dalam yang kemudian diikuti gempa dangkal. Gempa tersebut menunjukkan adanya aliran magma dari perut gunung ke kawah. Sementara, letusan freatik yang terjadi pada 18 November lalu tidak didahului dengan gempa multifase.

Letusan freatik pada November lalu membuat rekahan baru di kawah Merapi. Heru mengatakan kawah Merapi terbuka dengan lebar 400 meter dan kedalaman 150 meter. "Dengan kawah yang lebar, jika ada tekanan sedikit saja, asap akan keluar," ujarnya.

Gunung Merapi yang akan meletus, lanjutnya, ditandai dengan adanya proses pengisian magma. Reseptor gunung yang dipasang di sekitar kawah Merapi juga akan menunjukkan puncak mengembang. Saat meletus pada 2010 lalu, Heru mengatakan puncak Merapi mengembang tiga meter.

Meski demikian, Heru mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan BPPTKG terkait adanya sejumlah aktivitas Gunung Merapi. Sebelumnya, tim dari BPBD dan BPPTKG telah mengecek ke puncak Merapi setelah letusan freatik pada November lalu. Letusan tersebut mengeluarkan material lama dan menyebabkan hujan abu di sekitar wilayah Boyolali dan Solo.

Sementara itu, Kepada Desa Glagaharjo, Sutopo mengaku melihat asap di puncak Merapi. Akan tetapi, dia mengatakan tidak ada peningkatan aktivitas yang berarti di Merapi. Warga sekitar juga beraktivitas seperti biasa.

Lantaran status Merapi yang masih normal aktif, Sutopo mengatakan tidak ada instruksi khusus dari pihak berwenang terkait evakuasi. "Tapi, dari pemerintah desa sudah menghimbau warga agar selalu siap siaga," ujarnya. Kesiapsiagaan itu dibutuhkan setelah dalam setahun terakhir, Gunung Merapi telah menunjukkan peningkatan aktivitas dua kali.

Peningkatan status Gunung Merapi juga belum membuat warga di Kawasan Rawan Bencana III. Sebanyak 607 Kepala Keluarga (KK) dari lereng Merapi yang masuk daerah berbahaya enggan direlokasi ke Hunian Tetap. Dari 656 KK yang seharusnya direlokasi baru 49 KK mau pindah. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, 49 KK tersebut berasal dari Umbulharjo.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA