Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Perbankan Indonesia Butuh Medium Term Notes, Ini Alasannya

Selasa 19 Nov 2013 15:33 WIB

Rep: Satya Festiani/ Red: Nidia Zuraya

Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia

Foto: Republika/Wihdan Hidayat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Untuk menjaga likuiditas, perbankan selama ini mengandalkan dana pihak ketiga (DPK), khususnya deposito. Bank Indonesia (BI) menilai perbankan membutuhkan instrumen lain untuk menjaga likuiditasnya. Medium Terms Note (MTN) dibutuhkan di Indonesia agar Bank-bank yang ada tidak selalu bergantung pada deposit dan tabungan sehingga bisa membiayai sektor yang lebih produktif seperti Infrastruktur.

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri, Tbk, Destry Damayanti, mengatakan MTN baik untuk memperkuat likuiditas. "MTN bisa menambah sekian persen ke modal ke capital adequacy ratio (CAR). Jadi menambah second line reserve requirement," ujar Destry. Namun, MTN tidak akan membantu loan to deposit ratio (LDR) karena tidak termasuk dalam DPK.

Sebelumnya, Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan BI akan terus melakukan strategi operasi dan moneter untuk pasar uang rupiah dan valas. Untuk pengelolaan likuiditas rupiah, operasi moneter BI akan melanjutkan penyerapan ekses likuiditas struktural secara terarah dan terukur. Caranya, yaitu dengan perpanjangan tenor penyerapan operasi pasar terbuka (OPT) dengan penerbitan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) tenor 1 tahun atau lebih, serta penerbitan surat utang jangka menengah (MTN).

MTN dibutuhkan agar bank tidak bergantung pada DPK. Struktur DPK dinilai oligopolistik dan sangat dipengaruhi pemilik dana sehingga pembentukan harga tidak efisien. BI juga menilai, jika bank hanya bergantung pada DPK, bank akan kesulitan untuk membiayai kredit infrastruktur yang berjangka panjang. "Ini membantu perbankan karena perbankan tak lagi bergantung pada dana jangka pendek," ujar dia.

MTN sudah diinisiasi sejak era Bapepam LK atas permintaan bank-bank besar. Penerbitan MTN ini membutuhkan pengawasan yang kuat. Ke depan, MTN ini akan diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Direktur Utama PT Bank Bukopin, Tbk, Glen Glenardi, mengatakan MTN konteksnya untuk likuiditas. Menurutnya, jika suatu bank dapat menjaga likuiditas dengan baik, bank tersebut tidak memerlukan MTN untuk membiayai kredit jangka panjang. "Kalau selama ini likuiditas aman maka kita nggak perlu mengeluarkan," ujar dia.

Sementara itu, PT Bank OCBC NISP, Tbk telah mengeluarkan MTN di paruh pertama 2013. Direktur Utama Bank OCBC NISP, Parwati Surjaudaja, mengatakan pasar uang harus dikelola sehingga sumber dananya tidak hanya dari DPK. "Harus diversifikasi," ujar dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA