Kamis, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Kamis, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Respons BI Rate, Perbankan Segera Naikkan Bunga Kredit dan Simpanan

Rabu 13 Nov 2013 16:52 WIB

Rep: Satya Festiani/ Red: Nidia Zuraya

Suku bunga bank (ilustrasi).

Suku bunga bank (ilustrasi).

Foto: Wordpress.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perbankan di Tanah Air akan merespons kenaikan suku bunga acuan, BI Rate, dengan menaikan suku bunga dana dan kredit. Pelaku usaha mengkhawatirkan kenaikan suku bunga akan menurunkan daya saing.

Bank Indonesia (BI) menaikan BI rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 7,5 persen untuk merespons defisit transaksi berjalan. Direktur Utama PT Bank Mandiri, Tbk, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan kenaikan BI Rate tepat untuk mengurangi defisit transaksi berjalan. "Untuk mengurangi defisit transaksi berjalan maka diperlambatlah laju ekonomi kita ini. Diperlambatnya dengan cara itu tadi rupiahnya dilemahkan sedikit jadi saya rasa ini adalah langkah yang benar dan sifatnya temporer," tutur Budi yang ditemui di JCC, Rabu (13/11).

Menurutnya, defisit transaksi berjalan menandakan bahwa perekonomian Indonesia masih lemah. Oleh karena itu, pertumbuhan harus diperlambat. "Kalau kita mengabaikan itu kejadian kayak 98-99 akibatnya malah GDP-nya tidak tumbuh selama enam tahun. Baru tahun 2004 bisa kembali ke level GDP yang sama seperti 1997," ujarnya.

BI rate akan mendorong naiknya suku bunga dana dan kredit. Bank berpelat merah tersebut akan melakukan penghitungan secara mendalam besaran kenaikannya. "Bunga dana lebih cepat. Ya kira-kira sama yang dinaikkan BI rate. Kami belum meeting," kata Budi.

Sementara untuk besaran bunga kredit, pihaknya akan melihat secara terperinci sektornya karena perseroan baru saja melakukan penyesuaian pada bunga pinjamannya ke nasabah. "Besarannya tergantung kebutuhan. Kalau ternyata untuk beberapa sektor perlu karena impornya tinggi ya kita sesuaikan. Tapi jika tidak perlu ya tidak kita naikkan," ujar dia.

Ia mengaku bahwa kondisi suku bunga yang tinggi akan berdampak pada peningkatan rasio kredit bermasalah (NPL). Budi mengatakan NPL memiliki kecenderungan naik tahun depan. Pada 2008 di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, NPL mengalami kenaikan sebesar 60 bps. Namun, menurutnya, kondisi perbankan saat ini sudah kuat. "Kan dulu tahun 2008, NPL 3,6 persen naik jadi 4,2 persen itu juga cuma satu bank yang jatuh cuma Bank Century. Sekarang NPL perbankan 1,9 persen, kalau naik 60 bps kayak dulu, 2,5 persen," ungkap Budi.

Oleh karena itu, Bank Mandiri akan lebih berhati-hati untuk memberikan penyaluran kredit kepada nasabah. Penyaluran kredit utamanya diprioritaskan diberikan kepada nasabah yang mempunyai cash flow baik. Mandiri juga menasihati nasabah agar tidak terlalu agresif melakukan ekspansi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA