Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

'Mengindonesiakan' Indonesia

Selasa 12 Nov 2013 08:18 WIB

Red: Miftahul Falah

  Bendera Merah Putih.  (ilustrasi)

Bendera Merah Putih. (ilustrasi)

Foto: Republika/Aditya Pradana Putra

Bahwa hal yang nyatanya nyata menyedihkan, bukanlah kita kehilangan materi atau seseorang, tahta, harta dsb, meskipun tidak dipungkiri tetap akan mendatangkan gelagat sedih.

Kehilangan versi ini akan tetap dianggap maklum dan masih dalam kadar biasa, ketimbang kita kehilangan identitas diri yang memang pantas untuk disedihi dan menyedihkan. Kehilangan jati diri sama dengan kehilangan dirinya sendiri beserta kehidupannya. Keberadaannya adalah ketiadaannya.

Deskripsinya, persis seperti kita berjalan di kehidupan orang lain dengan segala rel dan ritmenya, dan pastinya dalam kondisi seperti ini, kita tidak akan menuai kepuasan, kebahagiaan dan kebanggaan hakiki. Karena pantaskah kita berbangga atau nyaman dengan sesuatu yang sebenarnya kita tidak hadir di dalamnya, apalagi itu bukan milik kita?

Kehilangan identitas diri, seperti itulah keadaan bangsa ini sekarang. Kebingungan dengan jati dirinya. "Warna-warni indah bangsa" ini terlahir dari semangat kemajemukan, sebuah potret indah dari keberagaman yang berhasil terbungkus dalam wadah Indonesia. Seperti pelangi yang menawan dengan tumpukan warna-warninya.

Di negeri ini, kita memang dilahirkan dengan agama yang beraneka rupa, dengan lir ilir doa yang beraneka nada, dengan budaya dan suku yang bercorak-corak indah, dan dengan bahasa dan kulit yang beraneka ragam. Di negeri ini, rasanya tidak perlu malu untuk berbeda.

Entah karena tidak puas atau kebodohan kita sendiri, dengan segala keberagaman yang ada di negeri ini dengan segala eksotik, kedahsyatan dan keunikannya, dengan anehnya penduduk negeri ini lebih berbangga dengan atribut-atribut bangsa lain yang kemudian dikenakan dan dijadikan identitasnya. Penduduk negeri ini seperti orang asing dalam rumahnya, yang bloon dengan tanahnya. Fenomena semacam ini, nyatanya memang lebih menyerupai seperti gundukan-gundukan kedunguan, keblingeran dari ketololan pemahaman dan cara pandang. Lagi-lagi nasionalime.

Nasionalime adalah bullshit dalam negeriku, atau minimal pengertiannya sudah amburadul cacat tidak karuan. Nasionalime hanya kemarahan dan kekuatan-kekuatan aneh dari naifnya berpikir dan bersikap. Setelah tercaploknya wilayah-wilayah di negeri ini oleh negeri tetangga, kita baru berkoar-koar. Setelah pengklaiman pengklaiman produk pribumi oleh bengsa lain, kita baru marah dan beranjak dengan slogan "nasionalisme".

Bukankah ini sangat lucu dan wajar untuk ditertawakan? Apakah ini yang dinamakan nasionalime, yang baru berkobar ketika sudah tercabik, terhina dan tercuri? Apakah ini yang disebut nasionalime, yang baru berbenah ketika sudah ditelanjangi dan dipermalukan oleh bangsa-bangsa kecil? Nasionalime kita butuh provokasi dan teguran terlebih dahulu. Nasionalime kita stagnan tanpa adanya balance dari usaha untuk membudidayakan, memelihara, menjaga segala sesuatu yang memang milik kita.

Sekadar pembagian, sekadar melihat yang terlihat

Sebagai spesifikasi sederhana, bahwa penduduk Indonesia terbagi menjadi tiga komunitas besar. Di dalamnya turut terserta meanseat, cara pandang, paradigma hingga pola berpikir dan bersikap.

Pertama, mereka yang berperangai seperti orang Arab. Komunitas ini mulanya bermaksud mendengungkan ajaran agama atau islamisasi, tetapi nyatanya lebih mirip arabisasi. Bahkan kelompok ini sampai ke stadium dan kesimpulan bahwa hanya Arab yang paling tahu agama, hanya Arab yang patut dimuliakan. Dikiranya Islam produksi Arab dan milik orang Arab, sehingga yang paling berhak tahu tentang nilai-nilai agama hanya mereka. Ini tidak dipungkiri, hingga sampai saat ini kita masih kebingungan antara Nabi Muhammad sebagai utusan Tuhan, dan Nabi Muhammad sebagai orang Arab, seperti halnya kita masih kelimpangan membedakan antara tafsir dan wahyu.

Kita bersikap rendah hati kepada orang Arab, tetapi nyatanya kita lebih seperti merendahkan diri di hadapan mereka. Anggapan bahwa mereka lebih segala-galanya di atas kita adalah hasil kesimpulan yang membingungkan, padahal secara kualitas dan realitas tidak benar adanya. Contoh sederhananya saja, dalam ranah budi pekerti yang termasuk intisari dari ajaran agama dan spiritualitas, kita jauh melebihi mereka. Islam memang turun di negeri Arab, tetapi itu tidak dimaksudkan bahwa agama milik mereka, dan pun tidak menutup kemungkinan bahwa kita bisa lebih paham tentang agama dari mereka. Pada akhirnya dan semestinya, semakin kita paham dengan esensi agama, semakin mendekatkan kita dengan identitas diri sebagai pribadi dan berbangsa, bukannya merubah diri dan bangsa kita dengan wajah yang lain.

Kedua, tipikal kebarat-baratan yang berkelakar dan bergaya layaknya bule. Meskipun tetap saja imitasi dan terlihat norak. Dipahami, arus globalisasi memang menyertai bersamanya westernisasi yang tidak dipungkiri membawa beberapa dampak. Dampak positif memang dirasakan, seperti pengetahuan tentang teknologi, sains, kenegaraan dsb. Tetapi dalam wajah lain mendatangkan dampak buruk, semacam provokasi semu yang hakikatnya semakin membodohi kita.

Westernisasi dengan promosi klaim modernnya, adalah fatamorgana dengan varian kepalsuannya. Hipnotisasi dalam bingkai modernisasi tak disangkal kini mendidik kita agar semakin meng-amnesia-kan diri sebagai pribadi dan berbangsa. Kita tidak melek dan tidak pandai memilah dan memilih prodak luar, karena tidak semua yang datang dari perut Barat itu baik, benar dan sinkron dengan kita.

Realitas menarasikan bahwa di negeri kita taklid buta, asal ambil dari apa yang bermuara dari Barat. Dianggapnya gaul, necis, kekinian, modern dsb. Kebalikanya, segala hal yang datang dari produk pribumi diidentikkannya dengan kuno, tidak keren, murahan dsb. Kita berbangga menjadi bangsa lain, dan anehnya kita malu dan risih dengan bangsa sendiri. Berlebihan kekaguman kita terhadap Barat yang berkonsekuensi logis semakin menjauhkan kita dengan identitas diri yang orisinil.

Jika kita tahu, sebenarnya tidak banyak hal yang perlu kita bangga-banggakan dari Barat, dan tidak perlu juga banyak belajar darinya. Mengapa demikian, karena memang nusantara jauh lebih hebat jika kita paham dan mau memahaminya. Mereka yang kebarat-baratan, gayanya memang boleh kota, tapi pola pikir masih ndeso. Kebanyakan dari mereka hanya bermental konsumtif.

Komunitas ketiga dengan sapaan akrabnya orang-orang ndeso, kampungan, kuper, primitif, adalah mereka orang-orang asli bermental khas Indonesia. Mereka yang masih berpegang teguh dengan nilai-nilai kultur dan budaya nusantara, yang ironisnya kini menjadi hinaan dan gojlogan gratis. Biasanya orang-orang di-maqom ini akrab dengan sebutan budayawan. Meskipun sebenarnya istilah ini lebih menyerupai penyempitan pemahaman dan makna.

Realitas di negeri ini

Pendidikan di negeri ini sangat minim, atau bahkan tidak ada ruang sama sekali untuk mengenalkan dan mempelajari identitas dirinya sendiri sebagai pribadi dan berbangsa. Model pendidikan kita sepertinya menggiring kita untuk selalu menengok dan belajar terus-menerus "ke luar", di luar diri kita. Entah itu ke Barat atau ke Arab.

Atas nama agama, kita bermetamorfosis menjadi Arab, dan berbondong-bondong mengenakan topeng-topeng Arab. Meskipun lebih terlihat kita semakin menjauh dari agama.

Atas nama modern kita berubah menjadi Barat, berjubel-jubel kita berebut dan berlarian ke Barat. Meskipun hakikatnya lebih nampak seperti tindakan kedunguan. Dan pada akhirnya, menyisihkan negeri ini dengan kesunyiannya ditinggalkan para penduduknya yang enggan menjadi bangsanya.

Cercahan-cercahan harapan

Tetap saja, meniru adalah definisi sederhana dari mengekor yang selamanya akan di belakang dan mustahil untuk memimpin. Bangsa ini, sejujurnya memiliki mental menjadi bangsa adidaya dan pemimpin. Tetapi sayangnya, ini tidak diimbangi dengan para penduduk yang nangkring di atasnya yang mana bermental cengeng.

Jika kita paham dan mau berusaha untuk memahami, cukup dengan menjadi diri sendiri dan menjadi orang Indonesia seutuhnya, itu sudah menjadi alasan yang lebih dari cukup mengantarkan kita dan negeri ini pada maqom-nya yang memang mulia. Bahkan, kita bisa lebih agamis dari orang-orang Arab. Bahkan, kita bisa lebih modern ketimbang orang-orang Barat.

Dimulai dari diri sendiri, dimulai dari yang terkecil dan dimulai dari sekarang. Ayo, kita belajar membaca dan memahami negeri ini yang di dalamnya bertumpuk mutiara yang sama sekali belum terjamah. Negeri ini yang katanya sempalan surga, tentu kita tidak akan rela jika yang menikmati rasa kesurgaannya adalah bangsa lain, sedangkan pribuminya seperti bermukim di neraka.

Bukankah semestinya kita harus sadar, bahwa bangsa ini akan bisa menjadi bangsa yang super hero dan disegani oleh negeri-negeri lain, jika memang tampil dengan jati dirinya sendiri. Indonesia sebagai inspirasi tak hanya aspirasi.

Teman, kita tidak akan merengek dan menyesal terlahir di negeri ini. Apapun hujatan dan cercaan untuk tanah ini, pahamilah bahwa itu adalah mutiara-mutiara doa dan nasihat gratis, sekaligus sebagai sapaan lucu untuk para penghuninya, agar jangan terlalu sering menghayal menjadi warna lain hingga mengamnesiakan diri. Tetaplah tersenyum, dan hamburkanlah ke seantero negeri ini, bahwa sedih tidak ada definisinya di tanah jiplakan surga ini.


Afif Husen
Mahasiswa Strata 1 Institute Imam Nafie-Tanger, Maroko



Rubrik ini bekerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA