Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Makanan Halal

Makanan Halal dan Ruang Shalat Dicari

Selasa 12 Nov 2013 05:55 WIB

Red: Zaky Al Hamzah

Makanan halal (ilustrasi)

Makanan halal (ilustrasi)

Foto: republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, JEDDAH - Potensi bisnis dari wisatawan Muslim diprediksi mencapai lebih dari 120 miliar dolar AS per tahun. Sayangnya, peluang tersebut belum dimanfaatkan maksimal. Penawaran global untuk wisatawan Muslim dinilai masih kurang.

Seorang eksekutif dari Arab Saudi, Kahlid, pernah mengajak istri dan putrinya bepergian ke Amerika Serikat. Mereka menggunakan penerbangan kelas bisnis dan tinggal di hotel mewah di New York, Orlando, Disney World, dan Washington DC. Mereka menikmati pemandangan dan perbedaan budaya. Namun, mereka tidak yakin apakah akan ke sana lagi.

Pasalnya, Khalid dan keluarga kesulitan menemukan makanan halal dan tempat nyaman untuk shalat. Anak perempuan Kahlid pun tidak nyaman dengan kolam renang yang bercampur lawan jenis.

Khalid sekarang berpikir akan mencontoh seorang temannya bernama Fateh yang memutuskan bepergian jauh dari negara asalnya, Turki. Ia memilih berlibur di sebuah resor pantai bintang lima baru di Didim. Sekembalinya dari sana, Fateh bersemangat menceritakan bagaimana nyamannya ia dan keluarga. Di sana, ada kolam renang dan pantai terpisah untuk keluarga, laki-laki, dan perempuan saja. Semua makanan bersertifikat halal. Setiap kamar hotel disediakan waktu azan.

Kepala Pasar Modal Syariah Global Thomson Reuters, Sayd Farook, mengatakan bahwa travel ke negara-negara mayoritas Muslim jelas merupakan pilihan gaya hidup bagi kebanyakan umat Islam. Tiga negara tujuan mereka, yakni Malaysia, Turki, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Populasi Muslim dari lima negara berikutnya yang minoritas Muslim, yaitu Singapura, Rusia, Cina, Prancis, dan Thailand. “Dengan persembahan dan pemasaran tepat, ada peluang besar bagi negara-negara untuk mengambil porsi perdagangan pariwisata Muslim yang tumbuh lebih cepat dari segmen pasar lain,” ujar Farook, seperti dikutip The National, Ahad (10/11).

Berdasarkan studi Gaya Hidup Pasar Wisata Muslim Global 2012 yang dilakukan oleh lembaga penelitian DinarStandard berbasis di New York dan pelopor pengembangan wisata halal Crescent-Rating, diperoleh data perjalanan Muslim menyumbang lebih dari 12 persen atau sekitar 126 miliar dolar AS. Angka tersebut untuk pengeluaran rekreasi, bisnis, dan wisata lainnya.

Studi yang dilakukan Straff Cina menunjukkan bahwa umat Islam menyukai tempat duduk nyaman, penerbangan ramah, kamar bersih, dan lokasi hotel strategis, seperti halnya wisatawan lain. Namun, mayoritas menyatakan ketidakpuasan berkaitan dengan keimanan dan kehalalan makanan. Pasalnya, makanan halal dan ruang shalat masuk bagian atas daftar kebutuhan mereka.

Farook menyebut beberapa negara sudah mengakomodasi kebutuhan para wisatawan Muslim. Sebagai contoh, Pemerintah Queensland menetapkan sebuah ruang khusus saat Ramadhan di Surfer Paradise Gold Coast Australia. Pemerintah Thailand menawarkan spa bersertifikat halal dan lembaga promosi wisata yang mempromosikan makanan halal dari populasi imigran Muslim di London, Paris, dan Munich.

“Persaingan pasar Muslim akan terus meningkat,” ujarnya. Dubai misalnya, sudah menjadi tujuan wisata utama umat Islam. Dubai menawarkan perpaduan perbelanjaan modern, hiburan keluarga, ruang shalat, dan masakan halal dunia. Beberapa negara juga berkesempatan menjadi tujuan wisatan Muslim, yakni negara dengan warisan Islam, seperti Arab Saudi, Uzbekistan, India, dan Spanyol; atau negara dengan diaspora Muslim besar, seperti Afrika Selatan, India, Cina, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Jerman. n qommarria rostanti ed: irwan kelana

Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA