Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Hatta Ajak Umat Beri Kontribusi Perubahan

Ahad 03 Nov 2013 16:37 WIB

Rep: edy setioko/ Red: Damanhuri Zuhri

Hatta Radjasa

Hatta Radjasa

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Momentum Tahun Baru Hijrah dimaknai Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian, Hatta Radjasa, dengan kesedian melakukan perubahan yang kurang baik menjadi lebih baik lagi.

''Dan, memasuki tahun baru hijriyah ini, saya siap bersama warga MTA (Majelis Tafsir Al Qur'an) melakukan perubahan,'' katanya, Ahad (3/11).

Di hadapan puluhan ribu massa warga MTA dalam acara Jihad (Pengajian Ahad) rutin di Gedung MTA Pusat, Solo, Jateng, Hatta mengajak seluruh umat Islam memasuki tahun baru hijriyah membawa perubahan baru. Mulai dari perubahan pola pikir, hingga tindakan amal perbuatan, bagi peradaban umat.

Hatta menyeru jutaan warga MTA yang tersebar di seluruh Indonesia yang mendengar Jihad -- karena disiarkan Radio MTA bantuan perangkat satelit, streaming, hingga memancarkan ke luar negeri, untuk berada pada garda paling depan untuk melakukan perubahan. ''Pokoknya, memberi kontribusi terhadap perubahan peradaban umat,'' pinta Ketua Umum DPP PAN ini.

Hatta mengajak umat Islam menengok kembali sejarah hijrah Rassullah SAW dari Makkah ke Madinah. Sejak diteken Piagam Madinah, peradaban umat Islam mengalami perubahan dahsyat.

Sejak itu dilakukan bagaimana mengatur cara bernegara, berpolitik, menata ekonomi, mengelola kemasyarakatan yang plural. Sejak itu, perbadaban umat mengalami loncatan perubahan puncak luar biasa.

Puncak perubahan peradaban umat, kata Hatta, ilmu pengetahuan sebagai kata kuncinya. ''Berfikir dan berdezikir tidaklah cukup. Berfikir tanpa berdzikir juga sia-sia. Makanya, berfikir dan berdzikir musti dilandasi ilmu pengetahuan,'' katanya.

Hatta juga mengajak umat berpikir menghadapi dunia global. ''Kita harus berpikir ke sana, kalau tidak bakal tergilas, tertinggal oleh perubahan zaman,'' katanya.

Fenomena global membawa dampak negatif, sekaligus mendatangkan peluang dan tantangan baru. Ada mega perubahan yang umat Islam harus siap menghadapi. Yakni, semakin terintegrasi perekonomian global. Tahun 2015 menghadapi Asean Economic Community (AEC).

AEC terdapat 10 negara yang membentuk pasar tunggal Asean. Nantinya terdapat arus modal bergerak ke seluruh anggota AEC. Bagi pelaku ekonomi harus siap menghadapi tantangan ini.

Kalau tidak, sambung Hatta, ''pasar kita bakal diambil orang lain''. Artinya, tantangan di sini bangsa Indonesia musti mempersiapkan daya saing, kualitas produksi, dan sebagainya.

Fenomena integrasi perekonomian global musti disikapi dengan arif. Paling tidak, mempersiapkan sumber daya manusia (SDM), pengusaha yang mampu berkompetisi.

Termasuk pengusaha dari kalangab MTA musti mempersiapkan diri. ''Saya siap membantu dengan mempermudah usaha permodalan, pelatihan, peluang masuk ke pasar global. Akses ilmu pengetahuan dan teknologi juga harus kita kuasai,'' katanya.

Hatta patut bersyukur, pengusaha muslim musti berani menyikapi perubahan ini. Termasuk warga MTA bersinergi dengan membangun kekuatan berpikir modern, moderat, kritis. Sehingga apa yang dilakukan nanti mendantangan rahmat bagi seruan alam.

Sekali lagi, Hatta di depan puluhan ribu pengunjung dan acara dipancarkan ke penjuru dunia, menyeru kepada warga MTA untuk memberi pencerahan bagi umat.

Umat harus bersinergi dalam menghadapi perubahan. Sekecil apapun dampak perubahan untuk peradaban umat, patut disyukuri bersama. ''Bersyukur diterjemahkan, dimanifestasikan ke dalam instrumen. Lalu, diamalkan dalam sebuah kebajikan''.

Berlomba-lomba menanamkan kebajikan wajib diserukan bagi seluruh umat. ''Dalam sejarah umat, orang-orang yang berbuat kebajikan ditindas, belum ada. Juga tidak ada ceriteranya, orang menjadi melarat karena suka bersedekah bagi kepentingan umat.''

Menurut Hatta, masih ada segudang pekerjaan rumah yang harus dituntaskan kepemimpinan nasional. Dan, 'PR' musti dituntaskan kepemimpinan selanjutnya.

''Jangan sampai pemimpin yang akan datang bisanya hanya mengkritisi dengan kata-kata. Tapi, juga tidak banyak berbuat. Carilah solusi pemecahannya,'' ujarnya menambahkan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA