Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Suhu di Kutub Utara Lebih Panas Dibandingkan 44 Ribu Tahun Lalu

Sabtu 02 Nov 2013 22:01 WIB

Rep: Ani Nursalikah/ Red: M Irwan Ariefyanto

Kutub Utara

Kutub Utara

REPUBLIKA.CO.ID,COLORADO -- Suhu musim panas rata-rata di Artik (Kutub Utara)  Kanada Timur selama 100 tahun terakhir lebih tinggi dibandingkan setiap abad dalam 44 ribu tahun terakhir. Penelitian mengatakan suhu di wilayah tersebut bahkan bisa lebih panas daripada selama 120 ribu tahun yang lalu.
 
Para peneliti AS percaya 'pemanasan yang belum pernah terjadi sebelumnya' di Arktik Kanada ini disebabkan gas rumah kaca di atmosfer meningkat.  "Penelitian ini benar-benar mengungkapkan pemanasan yang kita lihat terjadi di luar segala jenis variabilitas alami yang dikenal dan itu karena gas rumah kaca di atmosfer meningkat," ujar pemimpin studi dan profesor ilmu geologi di University of Colorado Boulder Gifford Miller, seperti dilansir Daily Mail.
 
Para ilmuwan di universitas tersebut percaya studi mereka adalah bukti langsung pertama yang menunjukkan suhu panas di Artik Kanada Timur melebihi suhu panas ketika periode Awal Holosen. Ketika itu, jumlah energi matahari yang mencapai belahan bumi utara saat musim panas sekitar sembilan persen lebih besar dari saat ini.
 
Holosen adalah zaman geologi yang dimulai setelah periode glasial terakhir bumi berakhir sekitar 11.700 tahun yang lalu dan berlanjut hingga hari ini.
 
Profesor Miller dan rekan-rekannya menggunakan rumpun lumut mati yang muncul dari permukaan es yang surut di Pulau Baffin sebagai petunjuk. Menurut tulisan mereka yang dipublikasikan dalam jurnal Geophysical Research Letters , para ilmuwan membandingkan 145 tanaman radiokarbon dengan gelembung gas yang terperangkap dalam inti es di daerah itu. Inti es tersebut menunjukkan lapisan salju dari waktu ke waktu dan memungkinkan peneliti merekonstruksi suhu di masa lalu.
 
Tanaman dikumpulkan dari dataran tinggi Pulau Baffin yang terletak di sebelah timur Greenland. Pulau Baffin adalah pulau terbesar kelima di dunia dan sebagian besar terletak dalam Lingkaran Arktik.
 
Hasil penelitian menunjukkan tanaman telah terperangkap dalam es selama setidaknya 44 ribu tahun, tetapi ada kemungkinan sampai 120 ribu tahun. Hal itu mengingat temperatur di wilayah tersebut belum begitu tinggi selama 120 ribu tahun.
 
"Informasi kunci di sini dalah betapa belum pernah terjadi sebelumnya pemanasan di Arktik Kanada," kata Miller yang juga pengajar di Institut Riset Kutub Utara dan Alpine.
 
Dia menambahkan, meskipun Kutub Utara telah menghangat sejak sekitar 1900, pemanasan yang paling signifikan di wilayah Pulau Baffin baru benar-benar mulai pada 1970an. Dalam 20 tahun terakhir sinyal pemanasan dari wilayah ini dianggap menakjubkan.
 
"Semua bagian Pulau Baffin mencair dan sepertinya semua tudung  es pada akhirnya akan menghilang, bahkan jika tidak ada pemanasan tambahan," ujarnya.
 
Para ilmuwan mengatakan suhu di Kutub Utara telah meningkat secara substansial dalam beberapa dekade terakhir sebagai akibat dari penumpukan gas rumah kaca di atmosfer bumi. Studi di Greenland oleh peneliti lain di universitas yang sama menunjukkan suhu pada lapisan es naik tujuh derajat Fahrenheit sejak 1991.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA