Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Peneliti Lacak Gen Manusia Purba di Flores

Selasa 29 Oct 2013 21:08 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Fosil manusia purba

Fosil manusia purba

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta melakukan kolaborasi dengan peneliti Amerika Serikat (AS) guna melacak keberadaan gen purba Denisovan dan Homo floresiensis pada manusia modern di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Belum ada pemikiran (sebelumnya) bahwa ada kemungkinan di gen kita dan mereka itu (penduduk Flores) ada gen-gen purba tadi (Denisovan dan Homo floresiensis). (Penelitian) itu yang kita lakukan," kata Deputi Direktur Lembaga Eijkman Jakarta, Herawati Sudoyo di Jakarta, Selasa (29/10).

Ia mengatakan Indonesia memang menjadi sumber manusia purba hominim. Begitu banyak manusia purba dan terakhir ditemukan Homo floresiensis masih menjadi kontroversi hingga sekarang.

"Itu karena dari DNA belum bisa dibuktikan bahwa itu (Homo florensiensis) spesies baru atau tidak. Apakah mereka pendek karena penyakit," ujar dia.

Meski para antropolog secara fisik sudah dapat membedakan bahwa manusia purba yang ditemukan di Liang Bua, Flores, memang berbeda dengan hominim lain yang telah ditemukan namun, menurut dia, semua akan terjawab dengan lebih tepat dan bisa dianalisis melalui DNA.

"Kita bisa lihat dari lebih banyak sudut dengan 'Genome-wide scanning'. Kita bisa lihat dari sisi metabolik, nutrisi, makanan mereka, termasuk gen yang berurusan terhadap kerentanan penyakit," lanjutnya.

Ia mengatakan kolaborasi memang dilakukan namun karena tidak ada penelitian yang dikerjakan sendiri.

"Tidak ada penelitian zaman sekarang dilakukan sendiri. Pasti akan melibatkan banyak peneliti dan institusi berbeda mengingat keahlian yang dimiliki berbeda-beda".

Ia mengatakan akan mulai melakukan pengenalan lapangan dan pendekatan ke Ruteng, Flores, bersama peneliti dari Unversity of California, sebelum kembali lagi untuk melakukan survei dan menentukan sampling terbaik mana yang akan dipilih.

"Jadi marka-marka tertentu saja yang diambil, kemudian disintesis, itu caranya. Besok kita jalan, tidak lama karena kita lakukan pendekatan dulu, lihat data, dan perkenalan dulu sebelum lakukan riset," ujar dia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA