Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Sumpah Pemuda

Kala Pemuda Melanggar Sumpahnya

Senin 28 Oct 2013 04:40 WIB

Red: Zaky Al Hamzah

Nazaruddin dan Angelina Sondakh

Nazaruddin dan Angelina Sondakh

Foto: pelitaonline

REPUBLIKA.CO.ID, Bung Karno pernah berkata, "Beri aku 10 pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia." Pekik yang disampaikan Bung Karno itu bukan sekadar retorika. Sejarah telah membuktikan bahwa di setiap kisah kegemilangan bangsa terselip peran pemuda. Ini terutama terjadi di bidang politik.

Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 jadi salah bukti monumental peran pemuda di perpolitikan bangsa. Sebab, saat itulah konsep Indonesia sebagai satu bangsa, bahasa, dan tanah air terlahir.

Kini, 85 tahun telah berlalu dari momen monumental Sumpah Pemuda. Sayangnya, saat ini justru banyak pemuda yang melupakan sumpahnya. Banyak pemuda melanggar sumpahnya sebagai pejabat dan anggora parlemen yang harusnya antikorupsi.

Bahkan, Menteri yang mengurusi urusan pemuda akhirnya jadi tersangka pula. Sebagai contoh kasus pemuda yang tersangkut korupsi, tengoklah Angelina Sondakh. Wanita yang akrab dipanggil Angie ini sempat disebut sebagai politikus muda potensial. Umurnya saat ini baru menginjak 35 tahun.

Jika merujuk catatan prestasinya sebelum jadi masuk ke Partai Demokrat, tak ada yang meragukan kapasitas Angie. Dia menyandang gelar Putri Indonesia. Namun, setelah terjun menjadi anggota dewan, Angie malah harus berakhir di tahanan. Dia terjerat dalam pusaran kasus korupsi Hambalang

Kiprah pemuda di dunia politik juga tercoreng dengan kasus yang menjerat Muhammad Nazaruddin. Pria yang akrab dipanggil Nazar ini memulai kariernya di politik di usia belia. Di usianya yang baru 30-an, dia secara gemilang menduduki kursi bandahara Partai Demokrat.

Namun, kegemilangan itu berujung petaka. Sebab, Nazar ternyata tersangkut berbagai kasus yang bernilai triliunan. Selain Demokrat, sejumlah politikus muda Golkar pun harus berurusan di KPK. Ini seperti yang dialami Sekjen Gerakan Muda MKGR Dendy Prasetiya. Selain Dendy, KPK juga mengendus keterlibatan Fahd Rafiq, Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga MKGR. Kini barisan politikus muda itu pun harus melupakan mimpinya di Senayan. Sebaliknya, sejumlah politikus muda justru harus berbagi ruang penjara.

Deretan data soal politikus muda ini selaras dengan hasil penilitian Transparency International Indonesia (TII). Survei TII tahun 2012 menunjukkan 60 persen anak muda memilih untuk tidak melakukan pengaduan apabila berhadapan dengan kasus korupsi. "Sedangkan, 40 persen anak muda bersikap tak acuh, karena merasa 'itu bukan urusan saya'," kata Koordinator Riset TII Lia Toriana.

Namun, segala kisah yang ditunjukkan politikus muda bukan jadi cermin pemuda Indonesia telah gagal berpolitik. Sebaliknya, Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai, korupsi yang dilakukan politikus muda itu hanya mewakili oknum.

Menurut ICW, harapan bangkitnya Indonesia masih ada di tangan politikus muda. Namun, politikus muda yang dibutuhkan Indonesia adalah yang benar-benar memiliki jiwa pemuda yang berani dan jujur.

Koordinator Bidang Politik ICW Abdullah Dahlan menilai Indonesia butuh kepemimpinan kaum muda yang berkomitmen untuk memerangi korupsi. Indonesia butuh pemuda yang mampu menjaga sumpahnya.

"Bila Sumpah Pemuda 1928 para pemuda berkumpul untuk berikrar satu bangsa, tumpah darah, dan bahasa, maka saat ini tantangan pemuda adalah ikut mengambil tindakan dalam mengatasi permasalahan kebangsaan, dalam hal ini korupsi," kata Dahlan. n ed: abdullah sammy

Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA