Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Remaja AS Jelajahi Kutub Selatan Dalam 22 Hari

Kamis 24 Oct 2013 13:14 WIB

Red: Dewi Mardiani

Remaja Amerika Serikat, penjelajah Kutub Utara dan Kutub Selatan, Peter Liautaud.

Remaja Amerika Serikat, penjelajah Kutub Utara dan Kutub Selatan, Peter Liautaud.

Foto: gereports.com

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Seorang remaja Amerika Serikat yang dikenal sebagai penjelajah kutub, Parker Liautaud, berencana untuk mencatat rekor dunia sebagai orang tercepat yang mencapai Kutub Selatan dengan menempuh perjalanan sejauh 639Km dengan jalan kaki dan ski mulai 3 Desember.

Liautaud (19 tahun) dari Palo Alto, California, akan merekam dan menayangkan di televisi perjalanannya yang dirancang dalam 22 hari. Perjalannya dengan menggunakan truk satelit yang akan mengikuti perjalanannya bersama seorang rekan, Doug Stoup, seorang penjelajah kawakan.

Ketika berbicara di Klub Penjelajah, New York, pada Rabu (23/10), Liautaud, yang sudah tiga kali menjelajah ke Kutub Utara, mengatakan harapannya bahwa perjalanan tersebut ditujukan untuk menarik perhatian orang terhadap masalah pemanasan bumi.

"Saya harus siap menarik kereta luncur dengan bobot hampir 82 kg untuk perjalanan 12 jam sehari selama hampir sebulan," kata Liautaud, sambil duduk di bawah kereta luncur yang pernah dipakai dalam ekspedisi pertama di dunia untuk mencapai Kutub Utara pada 1909.

Stoup dan Liautaud, mahasiswa tahun kedua di Universitas Yale jurusan Geologi, akan mulai berjalan kaki dari beting Ross Ice di pesisir barat laut Antartika. Mereka kemudian berganti dengan memakai seluncur ski ketika mencapai gletser Leverett.

Dengan berjalan 29 km sehari, menurut laporan Reuters yang dikutip Kamis (24/10), mereka berharap bisa mencapai Kutub Selatan dalam 22 hari. Rekor yang ada saat ini adalah 24 hari yang dicapai oleh Christian Eide dari Nowegia pada 2011. Kelompok asuransi Willis mendanai perjalanan tersebut.

Gaya pelatihan teratur Liautaud meliputi berjalan di atas mesin kayuh dengan memakai rompi berbobot 32 kg. Ia mengonsumsi 6.000 kalori per hari yang akan tetap dijaga seperti itu saat berada di Antartika.

Liautaud mengaku sadar betul akan bahaya yang mungkin ditemuinya, termasuk suhu udara yang bisa mencapai minus 60 derajat Celsius dan kemungkinan keadaan "whiteout" yaitu pemandangan putih di atas langit dan pantulan cahaya matahari yang menyilaukan di permukaan salju sehingga menghalangi jarak pandang.

Pada petualangan pertama ke Kutub Utara, Liautaud baru berumur 15 tahun, anggota timnya memanggil bantuan darurat ketika perjalanan hanya berjarak kurang dari 24 km ke garis akhir, saat mereka mencapai bentangan perairan terbuka. "Rasanya seperti ditampar di wajah," kata Liutaud. "Tetapi kini saya sudah tahu dan sudah mempersiapkan diri lebih baik."

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA