Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Perusahaan Candu Lirik Lahan di Peternakan Sapi

Sabtu 12 Oct 2013 11:08 WIB

Red:

Lahan yang ditanami opium

Lahan yang ditanami opium

CANBERRA! -- Sebuah perusahaan tanaman poppy Tasmania tengah meminta izin menanam tumbuhan poppy opium, atau candu, di sebuah peternakan sapi besar di daerah Northern Territory.

Perusahaan bernama TPI Enterprises tersebut sebelumnya telah mencoba menanam tumbuhan tersebut di dekat kawasan Katherine dan di kawasan Douglas Daly.

Managing Director perusahaan, Jarrod Ritchie, menyatakan bahwa hasil dari dua lahan tersebut baru-baru ini dipanen, dan hasil serta kualitasnya dapat menandingi tumbuhan yang ditanam di Tasmania.

TPI sudah menghabiskan 250.000 dollar untuk proyek poppy Top End mereka, dan minggu depan akan mengajukan aplikasi menguji penanaman poppy di Tipperary Station.

“Kami berencana menanam 500 hektar tahun depan, dan bila itu berhasil, kami akan menanam 1.000 hingga 2.000 hektar tahun berikutnya,” jelas Ritchie.

“Pada akhirnya, untuk mengimbangi pertumbuhan pasar, bisa saja jumlah ini menjadi 10.000 hektar per tahun.”

Tasmania, yang terletak di sebuah pulau di sebelah selatan benua Australia, sudah lama mendominasi pasar poppy dunia, dengan menyediakan sekitar setengah permintaan candu dunia.

Namun, tiga perusahaan yang beroperasi di Tasmania  (TPI, GlaxoSmithKline and Tasmanian Alkaloids) saat ini ingin berekspansi ke benua Australia. Ketiganya akan mengadakan ujicoba penanaman di negara bagian Victoria pada tahun 2014.

Menurut Ritchie, ada dua faktor penyebab bergeraknya perusahaannya ke Northern Territory.

“Ada peningkatan permintaan dunia untuk obat-obatan anti kecanduan dan penanggulangan rasa sakit, dan produk-produk itu berasal dari poppy opium, maka ada permintaan besar, dan ini juga akibat keterbatasan Tasmania dalam menyediakan jumlah jerami candu yang dapat diandalkan.” 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA