Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Jika Penghasilan Keluarga Berkurang

Rabu 25 Sep 2013 10:11 WIB

Rep: Nora Azizah/ Red: Endah Hapsari

Siapkan dana darurat untuk keluarga/ilustrasi

Siapkan dana darurat untuk keluarga/ilustrasi

Foto: sheknows.com

REPUBLIKA.CO.ID, Hidup dengan satu penghasilan saja, terkadang tak bisa dihindari. Meng urus orang tua yang sakit atau tak kunjung mendapatkan pengasuh anak membuat keluarga yang dulunya hidup dengan dua sumber penghasilan kini menggantungkan pada satu penghasilan. Situasi yang timpang tersebut otomatis membuat uang kas keluarga berubah. “Untuk itu perlu adanya persiapan keuangan yang matang pada masa penyesuaian,” kata perencana keuangan dari MRE Finance and Business Advisory, Oktavia Wijaya.

Ketika penghasilan hanya bersumber dari satu tempat, dana darurat bisa diandalkan selama masa penyesuaian. Untuk segala kondisi, saat tidak memiliki pekerjaan atau situasi tak terpikirkan lainnya, dana darurat ditegaskan Oktavia harus tersedia. Besarnya juga menyesuaikan struktur keluarga di rumah.

Suami dan istri yang belum memiliki anak wajib menyediakan dana darurat sebesar enam kali penge luaran bulanan keluarga. Sedangkan, yang sudah memiliki satu anak, besar dana daruratnya sembilan kali pengeluaran bulanan keluarga. Keluarga de ngan anak atau tanggungan lebih dari satu kemudian harus memiliki dana darurat yang lebih besar lagi.

Selain mengandalkan dana darurat sebagai salah satu solusi sementara, Oktavia me ngatakan, kepemilikan asuransi juga menjadi wajib. Asuransi kesehatan sangat penting untuk menutup pengeluaran saat terserang sakit tak terduga. Asuransi ini namun harus sudah disiapkan jauh hari. Sehingga, tidak perlu menyiapkan dana darurat dalam jumlah besar untuk membiayai kebutuhan keluarga.

Menentukan besarnya dana darurat juga dikatakan Oktavia tidak ada patokan nominalnya. Sebab, besar dana darurat yang bisa keluar untuk memenuhi kebutuhan hidup sangat subjektif. “Masa adaptasi sebuah keluarga dengan kondisi baru keuangan tak bisa diperhitungkan,” lanjut Oktavia.

Agar dana darurat tak habis di tengah jalan, penyesuaian harus dilakukan selama masa adaptasi. Keluarga perlu mengontrol pengeluaran dengan mengubah gaya hidup. Sejatinya, biaya hidup terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, kenaikannya bisa melebihi kenaikan gaji. Kenyataan tersebut membuat evaluasi pengeluaran perlu dilakukan.

Bila biasanya sang ibu harus selalu ke salon untuk mempercantik penampilan, saatnya mengubah kebiasaan itu. Perawatan di rumah akan mengurangi biaya salon dalam pos pengeluaran bulanan. Makan di luar rumah juga disarankan dikurangi. Memasak sendiri di rumah akan jauh lebih hemat dan menyehatkan.

Kunci dari situasi dengan satu penghasilan bukan sekadar memotong atau mengurangi pengeluaran saja. Namun, keluarga harus pintar mempertimbangkan, mana yang menjadi kebutuhan dan kepentingan pribadi. Sehingga, pengeluaran keluarga bisa disusun berdasarkan prioritas yang menempatkan kebutuhan dalam urutan utama, bukan kepentingan.

Oktavia menambahkan, keluarga yang penghasilannya berkurang dituntut pula untuk kreatif. Pasangan yang tak lagi bekerja bisa mencoba mendapatkan uang lewat wirausaha, misalnya. Sehingga, pemasukan tetap bisa diperoleh meski sudah tidak lagi bekerja formal.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA