Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

RI dan Iran Desak Solusi Politik Masalah Suriah

Sabtu 21 Sep 2013 13:58 WIB

Red: Taufik Rachman

Jasad korban serangan senjata kimia di Ghouta, Suriah, Rabu (21/8).

Jasad korban serangan senjata kimia di Ghouta, Suriah, Rabu (21/8).

Foto: AP/Shaam News Network

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Indonesia dan Iran akan menyuarakan desakan bagi penyelesaian politik untuk masalah Suriah selama berlangsungnya rangkaian Sidang Majelis Umum ke-68 Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang akan dimulai pekan depan.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengemukakan pernyataan itu usai melakukan pertemuan bilateral dengan mitranya dari Iran, Menlu Mohammad Javad Zarif di New York, Jumat (Sabtu, WIB).

Marty mengatakan dalam pertemuan empat-mata dengan Zarif --yang berlangsung di gedung Perutusan Tetap RI untuk PBB-- itu dirinya dan Menlu Iran sepakat bahwa proses politik harus segera digulirkan untuk menyelesaikan konflik Suriah, yang sudah menelan terlalu banyak korban jiwa.

"Kami sepakat bahwa inti permasalahan, tantangan utama kita saat ini adalah bagaimana menghentikan sekarang juga, segera, konflik di Suriah," kata Marty.

Ia menekankan bahwa yang diperlukan saat ini adalah segera dicapainya gencatan senjata, penghentian permusuhan serta segera digulirkannya suatu proses politik.

"Sama seperti Indonesia, Iran juga berpandangan bahwa kehendak atau pilihan dari rakyat Suriahlah yang harus dihormati. Jadi jangan sampai ada prekondisi sebelum sebuah pertemuan internasional atau proses politik digulirkan," ujar Marty.

Secara khusus, ungkapnya, Indonesia dan Iran juga sepakat bahwa konferensi internasional Jenewa II --konferensi perdamaian Suriah-- harus segera diumumkan tanggal penyelenggaraannya.

Konferensi Jenewa II yang merupakan usulan Rusia dan AS itu pada Mei lalu gagal terlaksana karena koalisi oposisi Suriah belum mencapai kesepakatan tentang apakah mereka akan berpartisipasi di dalamnya.

Dicanangkannya secara terbuka soal kapan konferensi damai kedua itu akan digelar, kata Marty, diharapkan akan memberikan tekanan kepada semua pihak terkait untuk segera mengedepankan pendekatan damai, dan bukan justru memperpanjang konflik.

"Yang sekarang terjadi kan masing-masing pihak kelihatannya berupaya untuk memperkuat posisinya dari segi militer sebelum perundingan itu dilakukan. Ini harus kita hindari, yaitu dengan segera diserukannya penghentian konflik, segera digelar proses politik," tegas Marty.

Seruan soal penyelesaian politik bagi Suriah, menurut Marty akan disampaikan dalam Sidang Majelis Umum PBB serta dalam pertemuan-pertemuan bilateral yang akan ia lakukan sepanjang satu pekan mendatang, antara lain dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry, Menlu Inggris William Hague, Gerakan Non-Blok (GNB) dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA