Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

700 Mahasiswa Thailand Kuliah di Yogyakarta

Kamis 12 Sep 2013 21:15 WIB

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Djibril Muhammad

Sri Sultan Hamengkubuwono X

Sri Sultan Hamengkubuwono X

Foto: Republika/Aditya Pradana Putra

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Saat ini sebanyak 700 mahasiswa Thailand kuliah di Yogyakarta. Para mahasiswa tersebut kebanyakan mendapatkan beasiswa dari Muhammadiyah dan Kementerian Agama.

"Kunjungan saya ke sini selain bertemu dengan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X juga mengunjungi para mahasiswa Thailand yang kuliah di Yogyakarta," kata Duta Besar Thailand untuk Indonesia Paskorn Siriyaphan pada wartawan usai beraudiensi dengan Gubernur DIY, di Gedung Wilis Yogyakarta, Kamis (12/9).

Para mahasiswa Thailand tersebut berlajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta di antaranya Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Negeri Yogyakarta (UIN) ,Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Di samping itu, kata Paskorn, Pemerintah dan Kerajaan Thailand ingin selalu bekerjasama dengan Pemda DIY. Menurut Sultan HB X, kerja sama antara DIY dan Thailand sudah terjalin lama yakni antara ayah Sultan HB X (Almarhum Sultan HB IX) dengan Raja Bhumibol.

Bahkan Raja Bhumibol pernah memberikan kesempatan kepada Sultan HB IX untuk menggunakan Pesawat Angkatan Udara Thailand berkunjung ke tempat peristirahatannya.

Sementara itu Sultan HB X dalam kesempatan ini menanyakan kepada Paskorn apakah ada teknologi kedelai yang bisa dikembangkan di Yogyakarta. Karena DIY mengimpor kedelai dalam jumlah besar untuk membuat tempe dan tahu.

Sultan mengungkapkan selama ini produksi kedelai lokal maksimal hanya dua ton per hektar. Sehingga kalau kedelai lokal tersebut dijualdengan harga Rp 9 ribu per kilogram, petani hanya mendapatkan Rp 18 juta per hektare dan itupun masih dikurangi untuk ongkos lain-lain.

Kalau petani menanam padi dan jagung petani bisa mendapatkan Rp 20 juta lebih per hektare. "Di DIY semakin banyak kebutuhan tempe dan tahu. Sehingga impor kedelai tinggi. Kalau Thailand mempunyai teknologi dalam pengembangan kedelai, apa mungkin Pemda DIY dan Thailand bekerja sama dalam pengembangan kedelai. Dengan demikian  nantinya kedelai di DIY produktivitasnya bisa lebih dari dua ton per hektare," ujarnya.

Menanggapi hal itu, Dubes Thailand untuk Indonesia mengatakan akan mencoba menanyakan hal itu  ke pimpinannya di Thailand. Dalam kunjungannya Paskorn didampingi konselor Aspirat Sughondhabhiron dan Pongpong Suwanaler.

Selama kunjungannya ke DIY, Dubes Thailand bersama rombongan juga mengunjungi beberapa tempat wisata seperti Candi Prambanan,  Borobudur dan Kraton Yogyakarta.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA