Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Defisit Transaksi Berjalan Bisa di Bawah Tiga Persen

Senin 26 Aug 2013 13:53 WIB

Red: Nidia Zuraya

Ekspor-impor (ilustrasi)

Ekspor-impor (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perekonomian Hatta Rajasa optimistis defisit transaksi berjalan (Current Account Defisit /CAD) pada kuartal III dapat turun di bawah tiga persen dengan penerapan kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah belum lama ini.

"Kami meyakini pada kuartal III nanti, CAD kita yang sekarang 4,4 persen dari PDB (produk domestik bruto) akan turun di bawah tiga persen," kata Hatta pada konferensi pers penganugerahan gelar Perekayasa Utama Kehormatan di Gedung BPPT di Jakarta, Senin (26/8).

Menurut dia, di dalam respon terhadap masalah-masalah ekonomi yang tertuang pada empat paket kebijakan ekonomi, pemerintah sangat memperhatikan masalah defisit transaksi berjalan.

"Sebagaimana diketahui CAD itu dapat diatasi dengan dua cara, yaitu peningkatan nilai ekspor atau mengurangi nilai impor. Itu idealnya agar kita mengalami surplus dalam neraca perdagangan," ujarnya.

Akan tetapi, kata dia, upaya tersebut merupakan upaya jangka panjang yang tidak dapat digunakan untuk segera mengatasi defisit transaksi berjalan secara cepat. "Dalam jangka panjang, kita bisa meningkatkan ekspor dengan cara menambah ekspor barang dengan nilai tambah dan tidak terlalu banyak mengekspor barang-barang mentah. Namun, saat ini diperlukan solusi dalam waktu singkat mengatasi CAD," paparnya.

Oleh karena itu, menurut dia, pemerintah akan mengatasi defisit transaksi berjalan dengan mengurangi impor, terutama impor bahan bakar minyak. "Bila dicermati, defisit transaksi berjalan yang terjadi itu sebagian besar disebabkan impor perminyakan, sedangkan untuk non-migas sebetulnya kita masih ada surplus," katanya.

Dia mengatakan penggunaan solar impor untuk BBM subsidi setiap tahun mencapai 17,5 juta kiloliter, dan solar impor untuk konsumsi mencapai 17,5 juta hingga 18 juta kiloliter. "Berarti, kalau ditotal itu ada 35 juta kiloliter solar yang diimpor. Itu kalau dikali harga per liter Rp 9.700, sudah berapa. Maka solusi yang tepat untuk mengatasi CAD dalam waktu singkat adalah dengan mengurangi impor minyak," kata dia.

Hatta menilai cara tersebut sebagai cara yang paling tepat untuk dilakukan karena dapat memberikan dua keuntungan. Dia juga mengatakan pemerintah akan mengarahkan masyarakat untuk menggunakan "biofuel" (bahan bakar alami) yang bersumber dari crude palm oil (minyak sawit mentah). "Jadi, dengan melakukan itu kita mendapat dua keuntungan, yaitu pengurangan nilai impor sekaligus mengurangi atau menghemat konsumsi BBM," kata dia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA